Rabu, Disember 30, 2009

Tawassul - NU

Tawassul Apakah Bukan Termasuk Syirik?

Seorang pembaca NU Online menanyakan fasal tentang tawassul atau mendoakan melalui perantara orang yang sudah meninggal. "Apakah bertawasul/berdo'a dengan perantaraan orang yang sudah mati hukumnya haram atau termasuk syirik karena sudah meminta kepada sang mati (lewat perantaraan)? Saya gelisah, karena amalan ini banyak dilakukan oleh masyarakat di Indonesia. Apalagi dilakukan sebelum bulan Ramadhan dengan mengunjungi makam-makam wali dan lain-lain sehingga untuk mendo'akan orang tua kita yang sudah meninggal pun seakan terlupakan," katanya.


Perlu kami jelaskan kembali bahwa tawassul secara bahasa artinya perantara dan mendekatkan diri. Disebutkan dalam firman Allah SWT:

يآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, " (Al-Maidah:35).

Pengertian tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat muslim selama ini bahwa tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT. Jadi tawassul merupakan pintu dan perantara doa untuk menuju Allah SWT. Tawassul merupakan salah satu cara dalam berdoa.

Banyak sekali cara untuk berdoa agar dikabulkan oleh Allah SWT, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir, berdoa di Maqam Multazam, berdoa dengan didahului bacaan alhamdulillah dan shalawat dan meminta doa kepada orang sholeh. Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar doa yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah SWT . Dengan demikian, tawasul adalah alternatif dalam berdoa dan bukan merupakan keharusan

Para ulama sepakat memperbolehkan tawassul kepada Allah SWT dengan perantaraan amal sholeh, sebagaimana orang melaksanakan sholat, puasa dan membaca Al-Qur’an. Seperti hadis yang sangat populer diriwayatkan dalam hadits sahih yang menceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua, yang pertama bertawassul kepada Allah SWT atas amal baiknya terhadap kedua orang tuanya; yang kedua bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang selalu menjahui perbuatan tercela walaupun ada kesempatan untuk melakukannya; dan yang ketiga bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan mengembalikannya dengan utuh, maka Allah SWT memberikan jalan keluar bagi mereka bertiga.

Adapun yang menjadi perbedaan di kalangan ulama adalah bagaimana hukumnya bertawassul tidak dengan amalnya sendiri melainkan dengan seseorang yang dianggap sholeh dan mempunyai martabat dan derajat tinggi di mata Allah SWT. Sebagaimana ketika seseorang mengatakan: “Ya Allah SWT aku bertawassul kepada-Mu melalui nabi-Mu Muhammmad SAW atau Abu Bakar atau Umar dll”. Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini.

Pendapat mayoritas ulama mengatakan boleh, namun beberapa ulama mengatakan tidak boleh. Akan tetapi kalau dikaji secara lebih detail dan mendalam, perbedaan tersebut hanyalah sebatas perbedaan lahiriyah bukan perbedaan yang mendasar karena pada dasarnya tawassul kepada dzat (entitas seseorang), adalah tawassul pada amal perbuatannya, sehingga masuk dalam kategori tawassul yang diperbolehkan oleh ulama’. Pendapat ini berargumen dengan prilaku (atsar) sahabat Nabi SAW:

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ إِنَّ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ كَانَ إِذَا قَحَطُوْا اسْتَسْقَى بِالعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ المُطَلِّبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إَلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتُسْقِيْنَا وَإِنَّا نَنَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَافَيَسْقُوْنَ.
أخرجه الإمام البخارى فى صحيحه ج: 1 ص:137


“Dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Umar berkata: "Ya Allah, kami telah bertawassul dengan Nabi kami SAW dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman Nabi kita SAW, maka turunkanlah hujan..”. maka hujanpun turun.” (HR. Bukhori)
Imam Syaukani mengatakan bahwa tawassul kepada Nabi Muhammad SAW ataupun kepada yang lain (orang shaleh), baik pada masa hidupnya maupun setelah meninggal adalah merupakan ijma’ para sahabat. "Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah SWT, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah SWT yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi hamba yang shalih, hidup atau mati tak membedakan atau membatasi kekuasaan Allah SWT, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat."

Orang yang bertawassul dalam berdoa kepada Allah SWT menjadikan perantaraan berupa sesuatu yang dicintai-Nya dan dengan berkeyakinan bahwa Allah SWT juga mencintai perantaraan tersebut. Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah SWT bisa memberi manfaat dan madlarat kepadanya. Jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah SWT itu bisa memberi manfaat dan madlarat, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlarat sesungguhnya hanyalah Allah SWT semata.

Jadi kami tegaskan kembali bahwa sejatinya tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT. Tawassul hanyalah merupakan pintu dan perantara dalam berdoa untuk menuju Allah SWT. Maka tawassul bukanlah termasuk syirik karena orang yang bertawasul meyakini bahwa hanya Allah-lah yang akan mengabulkan semua doa. Wallahu a’lam bi al-shawab.

H M. Cholil Nafis
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU

Tiryaaq Mujarrab 2

Menyambung mengenai kuburnya Syaikh Ma'ruf al-Karkhi, maka telah menulis al-Imam al-Hafiz Abu Bakar Ahmad bin 'Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi asy-Syafi`i al-Khatib al-Baghdadi (392H - 463H), ulama, ahli sejarah dan ahli hadits yang terkenal dengan panggilan Syaikh Khatib al-Baghdadi, dalam karya beliau yang masyhur "Tarikh Baghdad" pada bab ma dzukira fil maqaabir Baghdad al-makhshusah bil 'ulama` waz zuhhaad, seperti berikut:-

Ismail bin Ahmad al-Hiri telah memaklumkan kami bahawa Muhammad bin al-Husain as-Sulami telah mendengar daripada Abul Hasan bin Muqsim daripada Abu 'Ali ash Shaaffar yang mendengar Ibrahim al-Harbi berkata: "Kubur Ma'ruf adalah at-tiryaaq al-mujarrab".

Telah memberitahu akan daku Abu Ishaaq Ibrahim bin 'Umar al-Barmaki yang menyatakan bahawa dia diberitahu oleh Abul Fadhal 'Ubaidillah bin 'Abdur Rahman bin Muhammad az-Zuhri yang menyatakan bahawa dia telah mendengar ayahnya berkata: "Kubur Ma'ruf al-Karkhi itu mujarrab sebagai sebab bagi menunaikan hajat-hajat, dan dikatakan bahawa sesiapa yang membaca di sisinya (yakni di sisi kubur tersebut) 100 kali Suratul Ikhlash dan memohon kepada Allah apa yang dikehendakinya nescaya Allah menunaikan hajatnya".

Telah memberitahu akan kami Abu 'Abdullah Muhammad bin 'Ali bin 'Abdullah ash-Shuri menyatakan yang dia mendengar Abul Husain Muhammad bin Ahmad bin Jamii' menyatakan bahawa dia telah mendengar Abu 'Abdullah bin al-Mahaamili berkata: "Aku mengetahui akan kubur Ma'ruf al-Karkhi sejak 70 tahun yang lalu, tiada menziarahinya orang yang ditimpa masalah (kesusahan) melainkan Allah akan meleraikan masalahnya (melepaskan kesusahannya)."
Allahu ... Allah, adakah mereka-mereka ini penyembah kubur??? Atau mereka adalah orang yang telah sempurna ilmu dan makrifat mereka, sehingga mereka mengetahui darjat dan kadarnya seseorang makhluk di sisi Khaliqnya dan menjadikan mereka sebagai upaya dan sarana bertawassul dan bertabarruk. Apakah kita hendak menuduh al-Khatib al-Baghdadi serta segala ulama dan huffaz tersebut sebagai penyembah kubur???? Siapa berani, silakan, nanti pasti kita akan mengetahui siapa yang Ahlus Sunnah dan siapa pula yang Ahlul Bid`ah.


***********************************************
Pernyataan Syaikh Khatib al-Baghdadi tentang kubur Syaikh Ma'ruf
(Tarikh Baghdad, Juz 1, Halaman 134, Cetakan Darul Kutub Ilmiah 1417)


Ahad, Disember 27, 2009

Wirid `Asyura - Syaikh Daud

Ini adalah antara zikir dan doa yang dijadikan amalan oleh sebahagian ulama kita pada hari 'Asyura. Telah masyhur akan amalan ini dalam karya-karya ulama kita termasuklah dalam karya Mawlana Syaikh Daud al-Fathani rahimahUllah. Ini nukilan dari karya beliau "Kifaayatul Mubtadi wa Irsyadul Muhtadi", halaman 35.

Faedah yang `adhzimah yang nafisah disebut di dalam kitab "Jawaahirul Khamis" bagi Sayyidi Muhammad al-Ghawts RA: "Barangsiapa membaca pada hari 'Asyura` 70 kali akan:
Dan dibaca pula kemudiannya doa ini 7 kali, nescaya tiada mati pada demikian tahun itu dan jika sudah hampir ajalnya nescaya tiada diberi tawfiq bagi membaca akan dia. Inilah doanya:-

Jumaat, Disember 25, 2009

Seruan al-Qardhawi

Diberitakan dalam website Islam Online (edisi Bahasa Arab) bahawa Syaikh Yusuf al-Qardhawi di akhir lawatannya ke Malaysia (tepatnya pada 22/12/2009), dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri, telah menyeru agar semua pihak bersatu dalam mempertahankan pegangan Islam berteraskan Mazhab asy-Syafi`i dan Aqidah al-Asy`ari yang diamalkan di Malaysia serta menentang sebarang serangan pemikiran dari luar. Walaupun Syaikh al-Qardhawi terkenal dengan sikap agak "bebas mazhab " dalam ertikata beliau tidak terikat dengan mana-mana mazhab tertentu, di mana mungkin beliau seorang ulama yang telah layak untuk mengambil bersikap sedemikian, tetapi beliau bukanlah seorang yang "anti-mazhab". Beliau masih dapat melihat kepentingan mazhab dalam menyatupadu dan menseragamkan amalan beragama umat di satu-satu tempat. Diharap para pencinta dan pengkagum al-Qardhawi dapat menerima seruan dan saranan beliau tersebut, demi menjaga kesatuan, persatuan, perpaduan dan keutuhan umat Islam, bukan sahaja di Malaysia, tetapi di seluruh dunia.

- Untuk pandangan Syaikh Yusuf tentang Mawlid Nabi SAW, sila klik.
- Baca juga tulisan Ustaz Mohd Khafidz mengenai mazhab Syaikh Qardhawi.

Rabu, Disember 23, 2009

Golongan Ahlussunnah

Golongan Ahlussunnah menurut Imam al-Baghdadi


manusia diseru supaya tunduk kepada Allah serta berpegang kepada al-Quran dan hadis.

SAYA membaca tulisan mengenai makna atau definisi Ahlu al-sunnah wal Jamaah (ASWJ) daripada seorang penulis mingguan pada pertengahan November 2009 lepas. Penulis mengutip definisi Ahlussunnah yang ditulis oleh Imam al-Baghdadi (wafat429H) dalam kitabnya, al-Farq Baina al-Firaq.

Namun malangnya perkataan al-turuq al-sifatiah atau 'jalan-jalan sifat' dalam definisi tersebut diabaikan. Walhal, itulah antara perkara yang penting untuk menentukan sama ada tauhid yang mensyarahkan sifat-sifat 20 adalah sesuatu yang baru atau sememangnya sudah lama.

Pada saya, ada sedikit masalah 'ketidakjujuran ilmu', bila dia tidak menerangkan secukupnya maksud al-Baghdadi apabila mensyarahkan pengertian ASWJ.

Demikian juga, ada sebuah lagi penulisan yang menceritakan aliran pemikiran tauhid di Nusantara, yang merujuk bahawa aliran yang mensyarahkan Sifat 20 hanyalah muncul selepas tahun 1,000 Hijrah melalui Imam Sanusi dengan kitabnya Umm al-Barahin. Penulis tidak merujuk kemunculan metod tersebut kepada penyusunnya yang sebenar iaitu Abu Hassan al-Asy'ari (wafat324H) yang muncul pada akhir kurun ke 3 Hijrah. Ini masalah 'sikap amanah' dalam penulisan.

Dalam kesempatan ini, saya hanya mahu menjelaskan siapakah Ahlussunnah menurut penulisan Imam al-Baghdadi yang telah menjadi rujukan definisi ASWJ supaya pembaca dapat memahaminya secara jelas.

Beliau menyatakan (hal.19): "Maka golongan yang ke 73 ialah Ahli Sunnah Wal Jamaah iaitu golongan ahl al-ra'y (Abu Hanifah dan murid-muridnya) dan ahlu al-hadis; bukan mereka yang mempermain-mainkan hadis; dan ulama fikah mereka, penghafal al-Quran mereka, perawi hadis daripada mereka, dan ulama hadis di kalangan mereka, semuanya sepakat atas keesaan Pencipta, keesaan sifat-sifat-Nya, keadilan-Nya, hikmah-Nya dan nama-nama-Nya dan pada bab kenabian dan kepimpinan, hukum hudud dan pada perkara usuluddin."

Seterusnya, Imam al-Baghdadi Rahimahullah memperincikan lapan golongan yang termasuk dalam Ahlusunnah wal Jamaah (lihat bukunya dari halaman 240-243):

  • Golongan pertama, mereka yang menguasai ilmu khususnya dalam bab Tauhid (meng-esa-kan Allah) dan kenabian, hukum-hukum wa'ad (khabar gembira) dan wa'id (ancaman seksa), pahala dan balasan, syarat-syarat ijtihad, pemerintahan dan kepimpinan. Mereka yang melalui jalan ini ialah ulama Kalam (Tauhid) yang bebas dari fahaman tasybih (menyerupakan sifat Allah dengan makhluk) dan bebas daripada fahaman ta'til (yang menafikan sifat-sifat yang Azali bagi Allah SWT), dan bebas daripada bidaah al-Rafidhah, Khawarij, Jahmiah, Najariah dan seluruh pengikut bidaah dan hawa nafsu.
  • Golongan kedua ialah imam-imam fiqh sama ada kumpulan yang cenderung pada rakyun (dalil aqal) atau hadis. Iaitu mereka yang beriktikad (berkeyakinan) pada perkara usuluddin dengan mazhab-mazhab sifat pada Allah dan pada sifat-sifatnya yang azali (membicarakan sifat-sifat Allah SWT sebagaimana sifat 20), dan mereka bebas daripada fahaman Qadariah dan Muktazilah; mereka menetapkan melihat Allah Taala dengan mata (di akhirat kelak) dengan mata tanpa tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), tanpa ta'til' (menafikan sifat-sifat Allah). Termasuk dalam golongan ini ialah murid-murid kepada Malik, al-Shafie, al-Auza'i, al-Thauri, Abu Hanifah, Ibn Abu Laila (wafat148H), sahabat-sahabat Abu Thaur (wafat240H), sahabat-sahabat Ahmad bin Hanbal (wafat241H), ahli al-Zahir, keseluruhan ulama fiqh yang beriktikad dalam bab-bab akal ini dengan prinsip-prinsip Sifat (tauhid yang membahaskan Sifat-sifat Allah). Dan mereka tidak mencampurkannya dengan apa-apa daripada ahli bidaah dan hawa nafsu.
  • Golongan ketiga ialah mereka yang menguasai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan periwayatan hadis dan sunnah yang disampaikan oleh Nabi SAW, mereka berupaya membezakan antara sahih dan cacat antaranya, mengetahui sebab-sebab al-jarh wa al-ta'dil (kredibiliti seorang rawi) dan mereka tidak memasukkan ilmu mereka dengan apa-apa daripada ahli bidaah dan nafsu yang menyesatkan.
  • Golongan keempat ialah kaum yang menguasai kebanyakan topik-topik sastera Arab, nahu dan saraf. Mereka berada atas jalan pakar bahasa seperti al-Khalil (wafat175H), Abu 'Amr bin al-'Ala (wafat 145), Sibawaih (wafat 180H), al-Farra' (wafat 207H), al-Akhfash (wafat 215H), al-Asma'i, al-Mazini (wafat 236H), Abu Ubaid (wafat 224H) dan seluruh imam-imam Nahu sama ada ulama-ulama Kufah atau Basrah, yang mana mereka tidak mencampurkan ilmu mereka dengan sesuatu daripada bidaah al-Qadariah, atau Rafidhah atau Khawarij.Maka sekiranya seseorang itu cenderung ke arah nafsu yang menyesatkan, maka bukanlah ia daripada golongan Ahlussunnah walaupun kata-katanya adalah 'hujah' dalam ilmu bahasa dan Nahu.
  • Golongan kelima, antaranya ialah mereka yang menguasai ilmu yang berkaitan dengan jenis-jenis qiraat untuk al-Quran dan jenis-jenis tafsiran al-Quran, penakwilannya berdasarkan mazhab-mazhab Ahlussunnah, tanpa berpegang dengan takwilan ahli nafsu yang sesat.
  • Golongan keenam ialah, antaranya ialah para ahli zuhud sufi yang mempunyai ilmu maka jauh pandangan, yang telah dinilai maka ia diiktibarkan, mereka reda dengan hidup yang ringkas, mereka mengetahui bahawa penglihatan, pendengaran dan hati dipertanggungjawabkan terhadap kebaikan dan kejahatan; menghisab dengan neraca zarah-zarah, justeru menyediakan diri mereka dengan sebaik-baik persiapan untuk hari Kiamat. Perkataan mereka berjalan di atas dua jalan iaitu secara jelas dan isyarat di atas jalan ahli hadis, tanpa mereka 'membeli' pandangan yang mempermainkan hadis. Mereka tidak melakukan kebaikan kerana riak, tidak pula meninggalkan kebaikan kerana malu kepada orang lain. Agama mereka hanya satu dan menafikan pentasybihan (menyerupakan Allah dengan makhluk), mazhab mereka ialah tafwidh (menyerahkannya) kepada Allah SWT, bertawakal kepada-Nya, penyerahan kepada-Nya, tenang dengan apa yang direzekikan-Nya.
  • Golongan ketujuh ialah, antaranya kaum yang terikat dengan barisan hadapan peperangan dengan orang-orang kafir, berjihad melawan musuh-musuh Islam, mereka menjadi benteng melindungi umat Islam, meninggalkan isteri-isteri mereka dan negara mereka dan menzahirkan pada barisan hadapan mereka Mazhab ASWJ.
  • Golongan kelapan ialah, antaranya kebanyakan negara-negara yang secara kebiasaannya terdapat syiar ASWJ, bukannya negara yang menzahirkan syiar ahli hawa-nafsu yang sesat.

Itulah huraian sebenar al-Imam Abdul Qahir bin Tohir bin Muhammad al-Baghdadi. Rupanya, ramai sebenarnya yang diiktiraf sebagai Ahlussunnah. Ia berbeza dengan pandangan yang meminoritikan dan mengeksklusifkan ASWJ hanya untuk golongannya sahaja, dengan tuduhan sesat dan bidaah pada perkara remeh-temeh seperti qunut, talkin, zikir selepas solat, berdoa beramai-ramai dan sebagainya.

Lihat kata Imam al-Baghdadi tentang perkara-perkara cabang (hal. 19): "Mereka (ASWJ) hanya khilaf mengenai halal dan haram pada cabang hukum, bukanlah khilaf tersebut mengundang kepada sesat dan fasik; mereka adalah puak yang terselamat, kerana mereka bersatu pada keesaan Pencipta dan qidam-Nya, qidam segala sifatnya sejak azali, dan harus melihat-Nya tanpa sebarang perumpamaan dan gangguan, serta yakin terhadap isi kandungan kitab-Nya dan rasul-Nya, dan mengikut segala syariat Islam dan menghalalkan segala yang dihalalkan oleh al-Quran, dan mengharamkan segala yang diharam oleh al-Quran serta menerima apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan beriman pada hari kebangkitan dan perhitungan, dan soal dua Malaikat dalam kubur, beriman dengan telaga Kauthar dan Timbangan.

Semoga masyarakat Islam tidak terbelenggu dengan perpecahan yang lebih parah, lantaran perkara-perkara tersebut.

Banyak masa yang perlu digunakan untuk memperbetulkan generasi muda yang menyongsang arus dengan pelbagai gejala sosial. Wallahu a'lam.

Selasa, Disember 22, 2009

Keamanan Setahun

Dalam menyambut tahun baru hijrah yang ke 1431, jangan pula lupa memperingati tuan punya hijrah, iaitu Junjungan Nabi SAW. Mudah-mudahan dengan memperingati Kekasih Allah SAW, kita juga diingati Allah dengan berbagai kurniaan dan anugerah, diberikan rahmat, maghfirah, keamanan dan kedamaian dunia dan akhirat. Dikatakan yang Imam al-Hafiz Ibnul Jawzi al-Hanbali rahimahUllah menyatakan bahawa dengan mengadakan mawlid Junjungan Nabi SAW boleh menjadi sebab bagi memperolehi keamanan sepanjang tahun, sebagaimana disebut oleh Sidi Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi rahimahUllah dalam "I`anatuth Tholibin" juzuk 3, halaman 414. Tercatat di sana sebagai berikut:-

Dan Ibnul Jawzi telah menyatakan bahawa di antara khasiatnya (yakni khasiat majlis mawlid Junjungan Nabi SAW) bahawasanya diberikan keamanan pada tahun tersebut dan akan diberikan kegembiraan dengan segeranya tertunai segala cita-cita dan keinginan.
Apatah lagi jika setelah segala untaian indah sirah kehidupan, akhlak pribadi dan sifat kemuliaan Junjungan Nabi SAW dibaca dalam mawlid yang indah bahasanya, diiringi pula doa membawa berbagai harapan dan permohonan, antaranya pula, mohon keamanan dan kesentosaan serta kemakmuran bagi negeri yang tercinta. Contohnya sebagaimana yang dipanjatkan oleh Sidi Ja'far al-Barzanji rahimahUllah dalam doa khatam mawlid beliau, antara lain menyebut:-

اَللّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ وَ سَاِئرَ بلاَدِ اْلمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيًّةً
وَ اسْقِنَا غَيْثًا يَعُمُّ انْسِيَابُ سَيْبِهِ السَّبْسَبَ وَ رُوْباَه
Ya Allah, jadikanlah negeri ini dan sekalian negeri umat Islam aman sentosa lagi makmur dan cucurilah kami akan hujan rahmat yang meratai segala lembah dataran dan bukit-bukau.
Allahumma aamiin. Mudah-mudahan dikabulkan Allah

************************************************
Mawlid Sidi Ja'far al-Barzanji

Marhaban Ya Marhaban