Khamis, September 22, 2005

Falsafah Pakaian Habib Abu Bakar Gersik

Pada hari Sabtu, 3 Syawal 1370 H, diadakan majlis yang mulia di rumah Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf di kota Gresik yang dihadiri oleh banyak orang dari berbagai penjuru kota seperti Malang, Bangil, Pasuruan dan lain-lain. Al-Habib Abubakar sebagaimana biasanya duduk memimpin majlis. Beliau memakai jubah warna hijau, imamah putih dan rida' (selendang) yang indah, dengan wajah beliau yang mulia memancarkan cahaya Ilahi. Kemudian munsyid membacakan qashidah dari Al-Habib Alwi bin Muhammad Alhaddad, yang isinya pujian untuk Al-Habib Abubakar dan tawassul kepada beliau. Setelah itu Al-Habib Abubakar menanyai hadirin mengenai siapa pengarang dan untuk siapa qashidah ini dikarang dan menganjurkan para hadirin untuk mencontoh sifat husnudz dzon daripada Al-Habib Alwi (pengarang qashidah tersebut). Setelah mengucapkan tarhiib (ucapan selamat datang pada hadirin), berkata sayyidina Al-Habib Abubakar: "Sesungguhnya aku memaksakan diriku untuk berpakaian seperti ini, sedangkan badanku saat ini dalam kondisi lemah. Ini semua adalah merupakan pelajaran bagi semua orang agar mengikuti dan menjaga bagaimana para salafunas solihin berpakaian, dan agar tetap selalu ada orang-orang berpegang teguh untuk mengikuti jejak salaf rodhiyallaahu Ta'ala 'anhum."

Antara Tulisan Ulama Kita Tentang Mawlid.

Praktik memperingati Maulid Nabi, membaca Barzanji, dan lain-lain sejenisnya, sama ada dalam dunia Arab sendiri, mahu pun dalam dunia Melayu telah berjalan sejak lama. Kitab Berzanji telah banyak disyarahkan dalam bahasa Arab oleh ramai ulama. Ulama yang berasal dari dunia Melayu yang mensyarah kitab Maulid Nabi antaranya ialah Syeikh Nawawi al-Bantani yang terkenal dengan gelaran Imam Nawawi al-Jawi atau Imam Nawawi ke-II yang turut dinobatkan sebagai "Sayyidul Ulama-il-Hijaz". Beliau termasuk salah seorang guru kepada Syeikh Ahmad al-Fathani dan Kiyai Agung Sayyidis-Syaikh Muhammad bin Abdullah as-Suhaimi Ba Syaiban. Yang bererti ada pertalian keilmuan dengan murid-murid Syeikh Ahmad al-Fathani termasuk Tok Kenali, Tok Selehor dan lain-lain. Syeikh Nawawi al-Bantani telah menulis tentang Maulid Nabi dalam lima judul karyanya, bahkan tulisan mengenai Maulid Nabi merupakan karyanya yang terawal. Karya tersebut ialah "Targhibul Musytaqin li Bayani Manzhumatis Saiyid Barzanji Zainal `Abidin fi Maulidil Awwalin wal Akhirin", yang diselesaikan pada hari Jumaat, 13 Jumadilakhir 1284 H. Dicetak oleh Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 23 Rejab 1311 H. Semua karya Syeikh Nawawi al-Bantani dengan judul-judul yang lain adalah ditulis kemudian daripada kitab mengenai Maulid Nabi yang tersebut. Syeikh Ahmad al-Fathani juga memulakan penulisannya mengenai Maulid Nabi ketika beliau berusia 15 tahun, ditulis dalam bentuk puisi. Karya Syeikh Ahmad al-Fathani yang pertama itu diberi judul "Nazham Nuril Anam", diselesaikan pada hari Rabu, 15 Syaaban 1287 H/10 Oktober 1870 M. Transliterasi lengkap dapat dibaca dalam buku Syeikh Ahmad Al-Fathani Pemikir Agung Melayu dan Islam, jilid 2, Khazanah Fathaniyah, Kuala Lumpur, lihat hlm. 3 - 46. Kiyai Agung Muhammad as-Suhaimi pula menulis dalam bahasa 'Arab mengenai kelebihan dan fadhilat membaca atau mengadakan majlid mawlid dalam kitabnya yang berjodol "an-Nafahatul-Miskiyyah fi Fadhilati Qirooati Mawlidi Khoiril Bariyyah 'alaihi afdholus sholati wa azkat-tahiyyah." (yang dicetak dalam pada 15 Muharram 1343H).

Rabu, September 21, 2005

Pesan Tuan Guru

Ini amalan yang dipesan oleh salah seorang guruku yang enggan disebut namanya, agar kalian memperbanyakkan istighfar, terutama dalam bulan Ramadhan sekurang-kurangnya sebulan Ramadhan 100,000 kali. Guruku tersebut juga berpesan agar dilakukan amalan "al-'athoqatul kubra" dengan membaca suratul Ikhlash sebanyak 100,000 terutama dalam bulan yang mulia tersebut. Kepada sesiapa ikhwah yang sudi mengamalkannya silalah, nescaya ada manfaatnya dunia akhirat.

Sabar Dengan Karenah Isteri

Ikhwah, dalam kitab "Tanbihul-Mughtarrin" karangan Syaikh Abdul Wahhab asy-Sya'raani dijelaskan bahawa antara akhlak salafus sholeh dahulu ialah mereka sentiasa bersabar dengan karenah para isteri mereka. Selagi mana karenah tersebut hanya mengenai hak mereka selaku suami dan tidak termasuk sikap mencerobohi hak Allah. Antara dasar akhlak mereka ini adalah keyakinan pada atsar yang diriwayatkan oleh Ka`ab al-Ahbar yang menyatakan :- "SESIAPA YANG BERSABAR ATAS KESAKITAN YANG DILAKUKAN OLEH ISTERINYA TERHADAP DIRINYA (YAKNI HAK DIRINYA BUKAN HAK ALLAH ATAU LAINNYA), MAKA DIA DIBERI PAHALA SEPERTI PAHALA NABI AYYUB A.S." Oleh itu, mana hak kita selaku suami yang boleh kita tolak ansur laksanakanlah asalkan jangan sampai bertolak ansur dengan hak Allah. Insya-Allah, berkuranglah perceraian dan perbalahan, ingat benda halal yang paling dimurkai Allah ialah talak.

Isnin, September 19, 2005

Pujian Terhadap Junjungan s.a.w.

Ikhwah sekalian, adapun pujian terhadap Nabi Muhammad s.a.w. merupakan satu perkara yang dilakukan oleh para sahabat bahkan di hadapan Rasulullah. Dalam banyak hadits disebutkan bahwa ramai orang dan penyair datang kepada Rasul s.a.w. dan mengucapkan syair yang berisikan pujian terhadap Rasulullah, maka Rasul pun menyambut mereka dan menghormati mereka serta menyambut baik atas pujian mereka. Sebab baginda tahu bahwa mereka melakukan hal tersebut untuk mendapatkan ridho beliau, yang mana mencari ridho Rasul merupakan jalan untuk mendapatkan keridhoan Allah ta'ala. Dan mereka para sahabat Rasulullah, bagaimana mereka tidak memuji Rasulullah, sedangkan Allah sendiri memuji ArRasul shallallahu alaihi wasallam. Kegembiraan terhadap kelahiran Rasul merupakan hal yang baik di dalam syariat, bahkan mengenang kisah kelahiran Nabi atau Rasul merupakan sesuatu yang dicontohkan oleh Allah dalam AlQuran. Sehingga di dalam AlQuran Allah menceritakan tentang kelahiran Nabi Isa alaihi salam, juga tentang kelahiran Nabi Musa alaihi salam. Yang mana Allah menceritakan itu semua secara mendetail. Apabila Allah menceritakan kisah kelahiran mereka para Nabi, maka mengapa kita tidak boleh mengenang kisah kelahiran Pemimpin sekalian Nabi dan Rasul ? Rasulullah menceritakan bahwa Allah ta’ala meringankan adzab terhadap Abu Lahab di neraka pada setiap hari Isnin, dikarenakan kegembiraannya atas kelahiran Nabi Muhammad sehingga ia membebaskan hambanya yang bernama Tsuwaibah yang membawa kabar gembira tersebut kepadanya. Hadist ini disebutkan di dalam Sohih al Bukhori. Padahal Abu Lahab adalah seorang yang kafir yang disebutkan akan kebinasaannya di dalam al-Quran, sehingga turun surat khusus untuk menceritakan tentang kebinasaannya. Akan tetapi Allah tidak melupakan kegembiraannya dengan kelahiran Nabi Muhammad hingga meringankan adzab baginya setiap hari Isnin, hari kelahiran Rasulullah. Maka bagaimana halnya dengan seorang hamba yang mu’min, yang seumur hidupnya bergembira dengan kelahiran Rasulullah dan meninggal dalam keadaan Islam ? Pastilah derajat yang besar bagi mereka, firman Allah : “Katakanlah (hai Muhammad) bahwa dengan karunia dan rahmat Allah, maka bergembiralah dengan hal itu, itu (kegembiraan kalian) lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. Kegembiraan dengan rahmat dan karunia Allah dituntut oleh AlQuran, dan kegembiraan tersebut lebih mahal dan lebih berharga dari apa yang dikejar kejar dan dikumpulkan manusia baik itu harta ataupun kedudukan. Karena itu hendaknya kita memperkuat hubungan kita dengan Rasulullah, dengan menghidupkan sunnah beliau, mengenal riwayat hidup beliau dengan rajin bermawlid, menanamkan kecintaan terhadap beliau dalam lubuk hati kita serta keluarga kita, menjadikan Rasulullah sebagai idola yang tertinggi dan paling dekat dengan umat Islam, serta memperbanyak sholawat kepada baginda. Telapak tangan baginda lebih halus dari sutera, lebih lembut dari kapas dan lebih wangi dari misik. Wangi telapak tangannya menempel pada setiap benda yang disentuhnya. Berkata salah seorang sahabat : "Pada saat Nabi memimpin salat dzhuhur orang orang memegang telapak tangan Rasululah dan menyentuhkan ke muka mereka, aku juga memegang tangan beliau dan menempelkan ke mukaku dan aku merasakan tangan beliau lebih dingin dari es dan berbau lebih wangi dari minyak wangi". (Riwayat Abu Juaifa Shahih Bukhari). Semoga Allah tidak mengharamkan tangan kita yang kotor dengan kemaksiatan ini, untuk menyentuh dan menyalami tangan yang paling mulia tersebut, amiin.

Imam Malik & 18 Soalan

Sengaja kuutarakan satu kisah yang telah ditulis dalam kitab-kitab sejarah dan ku dengar daripada lidah para masyaikhku, agar kisah ini menjadikan seseorang agar lebih berhati hati di dalam berbicara, apalagi berfatwa. Kisahnya seperti berikut:-
  • Imam Malik r.a. adalah seorang ulama besar dan pemimpin mazhab, dan beliau dijuluki "Imam Dar al-Hijrah". Akan tetapi sekalipun beliau seorang muhaddits dan faqih, beliau sangat berhati-hati dalam berfatwa. Sehingga satu masa seseorang datang dari Baghdad ke Madinah khusus untuk bertanya kepada Imam Malik akan beberapa masalah (lihatlah semangatnya orang dulu, jalan jauh-jauh dari Baghdad hanya untuk beberapa masalah. Orang sekarang kadang majlis di depan rumahnya akan tetapi tidak hadir). Maka orang tersebut mengajukan lebih kurang 18 masalah. Tiga di antaranya dijawab oleh Imam Malik, sedangkan yang lain beliau hanya mengucapkan, "Aku tidak tahu. Aku tidak tahu." (lihatlah bagaimana beliau berhati hati di dalam berfatwa, dan tidak malu untuk mengucapkan sesuatu yang belum pasti dengan kalimat, "Aku tidak tahu"). Maka orang tersebut berkata, "Ya Imam Malik, aku datang jauh-jauh hanya untuk menanyakan kepadamu masalah ini, sedangkan engkau hanya mengucapkan tidak tahu?" Berkata Imam Malik, "Dari mana engkau datang?" Jawabnya, "Aku datang dari Baghdad." Imam Malik, "Masjid mana yang menaranya paling tinggi di Baghdad?" Lalu ia menjawabnya seraya menyebutkan nama suatu masjid yang paling tinggi menaranya di Baghdad. Lantas berkata Imam Malik berkata, "Bila engkau pulang ke Baghdad, pergilah ke masjid tersebut dan naiklah kepuncak menaranya, lantas berteriaklah dengan sekuat suaramu agar semua orang mendengar bahwa Malik bin Anas adalah orang yang paling bodoh."
Kalau Imam Malik ulama besar seperti takutnya dalam memberi fatwa dan jawapan bagi persoalan agama, maka sekarang banyak orang yang nama 25 rasul yang disebutkan di Al-Qur'an saja tidak hafal, bahkan syurut istinja' belum hafal, akan tetapi berani berbicara dalam syariat seenak perutnya dan berfatwa berdasarkan pendapatnya sahaja. Syariat bukan "menurutku... menurutmu..." dan bukan pula "pendapat saya...... perasaanku........" Akan tetapi "barang siapa berbicara akan Al-Qur'an menurut pendapatnya (dalam riwayat yang lain : tanpa didasari ilmu), maka bersiap-siaplah akan singgahsananya di neraka" (Hadits). Begitu juga dalam hadist dan syariat islam. Tapi zaman sekarang, pedagang pun bicara hukum, bahkan peminum dan zindiq, ilmu sudah jadi bualan kedai kopi....Allahu Allah.

Puasa Sunnat Setelah Pertengahan Sya'baan

Kutulis noktah ini buat peringatan kepada diri dan ikhwah sekalian bahawa menurut mazhab kita asy-Syafi`ie, selepas nishfu Sya'baan HARAM DAN TIDAK SAH bagi seseorang untuk melakukan puasa sunnat melainkan puasa sunnat yang telah menjadi wiridannya; atau puasa sunnat yang dihubungkan dengan nishfu pertama bulan Sya'baan. Oleh itu, jangan dimulakan berpuasa sunnat setelah nishfu kedua bulan Sya'baan. Nanti pahalanya ke mana dosa pula yang datang.