Menunjukkan catatan yang diisih mengikut kaitan pertanyaan tawassul. Isih mengikut tarikh Tunjukkan semua catatan
Menunjukkan catatan yang diisih mengikut kaitan pertanyaan tawassul. Isih mengikut tarikh Tunjukkan semua catatan

Rabu, Disember 30, 2009

Tawassul - NU

Tawassul Apakah Bukan Termasuk Syirik?

Seorang pembaca NU Online menanyakan fasal tentang tawassul atau mendoakan melalui perantara orang yang sudah meninggal. "Apakah bertawasul/berdo'a dengan perantaraan orang yang sudah mati hukumnya haram atau termasuk syirik karena sudah meminta kepada sang mati (lewat perantaraan)? Saya gelisah, karena amalan ini banyak dilakukan oleh masyarakat di Indonesia. Apalagi dilakukan sebelum bulan Ramadhan dengan mengunjungi makam-makam wali dan lain-lain sehingga untuk mendo'akan orang tua kita yang sudah meninggal pun seakan terlupakan," katanya.


Perlu kami jelaskan kembali bahwa tawassul secara bahasa artinya perantara dan mendekatkan diri. Disebutkan dalam firman Allah SWT:

يآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, " (Al-Maidah:35).

Pengertian tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat muslim selama ini bahwa tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT. Jadi tawassul merupakan pintu dan perantara doa untuk menuju Allah SWT. Tawassul merupakan salah satu cara dalam berdoa.

Banyak sekali cara untuk berdoa agar dikabulkan oleh Allah SWT, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir, berdoa di Maqam Multazam, berdoa dengan didahului bacaan alhamdulillah dan shalawat dan meminta doa kepada orang sholeh. Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar doa yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah SWT . Dengan demikian, tawasul adalah alternatif dalam berdoa dan bukan merupakan keharusan

Para ulama sepakat memperbolehkan tawassul kepada Allah SWT dengan perantaraan amal sholeh, sebagaimana orang melaksanakan sholat, puasa dan membaca Al-Qur’an. Seperti hadis yang sangat populer diriwayatkan dalam hadits sahih yang menceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua, yang pertama bertawassul kepada Allah SWT atas amal baiknya terhadap kedua orang tuanya; yang kedua bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang selalu menjahui perbuatan tercela walaupun ada kesempatan untuk melakukannya; dan yang ketiga bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan mengembalikannya dengan utuh, maka Allah SWT memberikan jalan keluar bagi mereka bertiga.

Adapun yang menjadi perbedaan di kalangan ulama adalah bagaimana hukumnya bertawassul tidak dengan amalnya sendiri melainkan dengan seseorang yang dianggap sholeh dan mempunyai martabat dan derajat tinggi di mata Allah SWT. Sebagaimana ketika seseorang mengatakan: “Ya Allah SWT aku bertawassul kepada-Mu melalui nabi-Mu Muhammmad SAW atau Abu Bakar atau Umar dll”. Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini.

Pendapat mayoritas ulama mengatakan boleh, namun beberapa ulama mengatakan tidak boleh. Akan tetapi kalau dikaji secara lebih detail dan mendalam, perbedaan tersebut hanyalah sebatas perbedaan lahiriyah bukan perbedaan yang mendasar karena pada dasarnya tawassul kepada dzat (entitas seseorang), adalah tawassul pada amal perbuatannya, sehingga masuk dalam kategori tawassul yang diperbolehkan oleh ulama’. Pendapat ini berargumen dengan prilaku (atsar) sahabat Nabi SAW:

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ إِنَّ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ كَانَ إِذَا قَحَطُوْا اسْتَسْقَى بِالعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ المُطَلِّبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إَلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتُسْقِيْنَا وَإِنَّا نَنَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَافَيَسْقُوْنَ.
أخرجه الإمام البخارى فى صحيحه ج: 1 ص:137


“Dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Umar berkata: "Ya Allah, kami telah bertawassul dengan Nabi kami SAW dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman Nabi kita SAW, maka turunkanlah hujan..”. maka hujanpun turun.” (HR. Bukhori)
Imam Syaukani mengatakan bahwa tawassul kepada Nabi Muhammad SAW ataupun kepada yang lain (orang shaleh), baik pada masa hidupnya maupun setelah meninggal adalah merupakan ijma’ para sahabat. "Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah SWT, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah SWT yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi hamba yang shalih, hidup atau mati tak membedakan atau membatasi kekuasaan Allah SWT, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat."

Orang yang bertawassul dalam berdoa kepada Allah SWT menjadikan perantaraan berupa sesuatu yang dicintai-Nya dan dengan berkeyakinan bahwa Allah SWT juga mencintai perantaraan tersebut. Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah SWT bisa memberi manfaat dan madlarat kepadanya. Jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah SWT itu bisa memberi manfaat dan madlarat, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlarat sesungguhnya hanyalah Allah SWT semata.

Jadi kami tegaskan kembali bahwa sejatinya tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT. Tawassul hanyalah merupakan pintu dan perantara dalam berdoa untuk menuju Allah SWT. Maka tawassul bukanlah termasuk syirik karena orang yang bertawasul meyakini bahwa hanya Allah-lah yang akan mengabulkan semua doa. Wallahu a’lam bi al-shawab.

H M. Cholil Nafis
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU

Selasa, September 05, 2006

Tawassul - Bicara Habib Munzir

Memang banyak pemahaman saudara-saudara kita muslimin yang perlu diluruskan tentang tawassul, tawassul adalah berdoa kepada Allah dengan perantara amal shalih, orang shalih, malaikat, atau orang-orang mukmin. Tawassul merupakan hal yang sunnah, dan tak pernah ditentang oleh Rasul saw, tak pula oleh Ijma Sahabat radhiyallahuanhum, tak pula oleh Tabiin, dan bahkan para Ulama dan Imam-Imam besar Muhadditsin, mereka berdoa tanpa perantara atau dengan perantara, dan tak ada yang menentangnya, apalagi mengharamkannya, atau bahkan memusyrikkan orang yang mengamalkannya.

Pengingkaran hanya muncul pada abad ke 19-20 ini, dengan munculnya sekte sesat yang memusyrikkan orang-orang yang bertawassul, padahal Tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits shahih di bawah ini : Wahai Allah, Demi orang-orang yang berdoa kepada Mu, demi orang-orang yang bersemangat menuju (keridhoan)Mu, dan Demi langkah-langkahku ini kepada (keridhoan)Mu, maka aku tak keluar dengan niat berbuat jahat, dan tidak pula berniat membuat kerusuhan, tak pula keluarku ini karena riya atau sumah....... hingga akhir hadits. (HR Imam Ahmad, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Abu Naiem, Imam Baihaqy, Imam Thabrani, Imam Ibn Sunni, Imam Ibn Majah dengan sanad Shahih). Hadits ini kemudian hingga kini digunakan oleh seluruh muslimin untuk doa menuju masjid dan doa safar. Tujuh Imam Muhaddits meriwayatkan hadits ini, bahwa Rasul saw berdoa dengan Tawassul kepada orang-orang yang berdoa kepada Allah, lalu kepada orang-orang yang bersemangat kepada keridhoan Allah, dan barulah bertawassul kepada Amal shalih beliau saw (demi langkah2ku ini kepada keridhoanMu).


Siapakah Muhaddits?, Muhaddits adalah seorang ahli hadits yang sudah hafal 10.000 (sepuluh ribu) hadits beserta hukum sanad dan hukum matannya, betapa jenius dan briliannya mereka ini dan betapa Luasnya pemahaman mereka tentang hadist Rasul saw, sedangkan satu hadits pendek, bisa menjadi dua halaman bila disertai hukum sanad dan hukum matannya. Lalu hadits di atas diriwayatkan oleh tujuh Muhaddits, apakah kiranya kita masih memilih pendapat madzhab sesat yang baru muncul di abad ke 20 ini, dengan ucapan orang-orang yang dianggap muhaddits padahal tak satupun dari mereka mencapai kategori Muhaddits, dan kategori ulama atau apalagi Imam Madzhab, mereka bukanlah pencaci, apalagi memusyrikkan orang-orang yang beramal dengan landasan hadits shahih.


Masih banyak hadits lain yang menjadi dalil tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Abu Nu'aim, Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu disebutkan Rasul saw rebah/bersandar dikuburnya dan berdoa : Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelum ku, Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih sayang., jelas sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasul saw bertawassul di kubur, kepada para Nabi yang telah wafat, untuk mendoakan Bibi beliau saw (Istri Abu Thalib).


Demikian pula tawassul Sayyidina Umar bin Khattab ra. Beliau berdoa meminta hujan kepada Allah : "Wahai Allah, kami telah bertawassul dengan Nabi kami (saw) dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman beliau (saw) yang melihat beliau (saw), maka turunkanlah hujan..”. maka hujanpun turun. (Shahih Bukhari hadits no.963 dan hadits yang sama pada Shahih Bukhari hadits no.3508). Umar bin Khattab ra melakukannya, para sahabat tak menentangnya, demikian pula para Imam-Imam besar itu tak satupun mengharamkannya, apalagi mengatakan musyrik bagi yang mengamalkannya, hanyalah pendapat sekte sesat ini yang memusyrikkan orang yang bertawassul, padahal Rasul saw sendiri bertawassul. Apakah mereka memusyrikkan Rasul saw ? Dan Sayyidina Umar bin Khattab ra bertawassul, apakah mereka memusyrikkan Umar ?, Naudzubillah dari pemahaman sesat ini.


Mengenai pendapat sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa tawassul hanya boleh pada orang yang masih hidup, maka entah dari mana pula mereka mengarang persyaratan tawassul itu, dan mereka mengatakan bahwa orang yang sudah mati tak akan dapat memberi manfaat lagi, pendapat yang jelas-jelas datang dari pemahaman yang sangat dangkal, dan pemikiran yang sangat buta terhadap kesucian tauhid.


Jelas dan tanpa syak bahwa tak ada satu makhlukpun dapat memberi manfaat dan mudharrat terkecuali dengan izin Allah, lalu mereka mengatakan bahwa makhluk hidup bisa memberi manfaat, dan yang mati mustahil. Lalu di mana kesucian tauhid dalam keimanan mereka ? Tak ada perbedaan dari yang hidup dan yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah, yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah, dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila dikehendaki Allah. karena penafian kekuasaan Allah atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas.


Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah swt, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah, yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi shalih, hidup atau mati tak membedakan Kudrat Ilahi atau membatasi kemampuan Allah, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah tetap abadi walau mereka telah wafat.


Contoh lebih mudah, anda ingin melamar pekerjaan, atau mengemis, lalu anda mendatangi seorang saudagar kaya, dan kebetulan mendiang tetangga anda yang telah wafat adalah abdi setianya yang selalu dipuji oleh si saudagar, lalu anda saat melamar pekerjaan atau mungkin mengemis pada saudagar itu, anda berkata : "Berilah saya tuan (atau) terimalah lamaran saya tuan, saya mohon, saya adalah tetangga dekat fulan, nah bukankah ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati? Bagaimana dengan pandangan bodoh yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat? Jelas-jelas saudagar akan sangat menghormati atau menerima lamaran pekerjaan anda, atau memberi anda uang lebih, karena anda menyebut nama orang yang ia cintai, walau sudah wafat, tapi kecintaan si saudagar akan terus selama saudagar itu masih hidup, pun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan ar-Rahmaan ar-Rahiim, Yang Maha Pemurah dan Maha Menyantuni? Dan tetangga anda yang telah wafat tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang lamaran anda pada si saudagar, NAMUN ANDA MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT.


Aduh...aduh... entah apa yang membuat pemikiran mereka sempit hingga tak mampu mengambil permisalan mudah seperti ini. Firman Allah : "MEREKA ITU TULI, BISU DAN BUTA DAN TAK MAU KEMBALI PADA KEBENARAN" (QS Albaqarah-18). Wahai Allah beri hidayah pada kaumku, sungguh mereka tak mengetahui.Wassalam.

Selasa, Jun 09, 2009

Tawassul - TG Nik Aziz

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab sahihnya akan perlakuan para sahabat dalam bertabarruk dengan air bekas wuduk Junjungan Nabi SAW. Demikian dahsyat dan bersungguh-sungguhnya mereka bertabarruk dengannya sehingga Imam al-Bukhari meriwayatkan yang mereka seolah-olah hampir saling berbunuh-bunuhan kerana berebut-rebut mendapatkan bekas air wuduk baginda. Kalaulah kita hadir pada ketika itu, bagaimanakah sikap dan tanggapan kita terhadap perlakuan para sahabat tersebut ? Adakah kita akan menghukum mereka sebagai keterlaluan dalam perbuatan "ngalap berkat" Junjungan SAW melalui bekas air wuduk baginda? Sudah tentu kita tidak akan berani memberi kritikan sedemikian terhadap para sahabat yang mulia radhiyaAllahu `anhum ajma`in.

Sesungguhnya amalan bertabarruk dan bertawassul dengan Junjungan Nabi s.a.w. adalah sesuatu yang tidak pernah menjadi tegahan di sisi Ahlus Sunnah wal Jama`ah yang sebenar. Hanya tokoh seperti Ibnu Taimiyyah al-Harrani yang cepat menghukumkannya sebagai haram dan sebagainya. Bertawassul merupakan satu sebab bagi menghasilkan permohonan kita daripada Allah SWT. Doa yang merupakan ibadah merupakan satu wasilah, tawassul merupakan satu lagi wasilah, maka jika seseorang berdoa dengan bertawassul, maka dia mempersembahkan dua sebab agar Allah mengabulkan permintaannya. Allahu .. Allah, jika ditambahkan lagi dengan wasilah tempat yang suci seperti tanah haram, waktu yang berkat seperti hari `Arafah, ditambah lagi dengan melakukan amalan sholeh yang lain sebelum berdoa seperti bersedekah, maka makin banyaklah sebab dihadapkan kepada Allah agar permintaan kita ditunaikanNya, walaupun hak kuasa mutlak tertentu bagi Allah SWT yang menjadikan sekalian sebab. Fahamilah wahai ikhwah, agar kalian tidak gegabah menghukum orang yang bertawassul dan menjadi seorang yang fobia dengan tawassul.

Berbalik kepada kisah tabarruk para sahabat, maka Tok Guru Nik 'Abdul `Aziz bin Nik Mat hafizahUllah, dalam karya beliau "Rasulullah Muhammad S.A.W. insan teladan sepanjang zaman", turut mengisahkan perlakuan tabarruk mereka dalam satu bab khusus dengan tajuk "Tabarruk Digalakkan dan Disyariatkan oleh Islam". Tok Guru juga turut memperkatakan berhubung persoalan tawassul dengan Junjungan Nabi SAW setelah baginda wafat. Pada halaman 175 - 176, Tok Guru menulis, antara lain:-
Oleh yang demikian, apabila telah mengetahui bahawa mengambil berkat dengan sesuatu itu bererti mencari kebaikan melaluinya. Maka fahamlah bahawa bertawassul ataupun bertabarruk dengan kesan-kesan baginda itu adalah suatu perkara yang digalak dan disyariatkan oleh Islam. Lebih-lebih lagi mengambil berkat daripada zat Nabi yang mulia.

Mengambil berkat daripada kesan Nabi itu tiada beza antara semasa hidup ataupun selepas baginda wafat. Kerana para sahabat di zaman hidup Rasulullah SAW mengambil berkat dengan air basuhan wuduk baginda, ataupun air peluh dan juga air ludah serta rambut baginda. Kesan-kesan itu sama sahaja selepas wafatnya, semuanya bukanlah suatu yang hidup dan keadaannya sama semasa hayat baginda.

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Sahih Bukhari. Ramai orang menjadi sesat selepas kewafatan Rasulullah SAW, kerana dalam hati mereka tiada kasih kepada baginda. Mereka telah menidakkan tawassul terhadap zat baginda selepas wafatnya. Mereka menganggap bahawa kesan keberkatan Rasulullah SAW itu telah habis apabila baginda wafat. Jika bertawassul selepas baginda wafat bererti bertawassul kepada suatu yang tidak berkesan.

Hujah seperti itu menunjukkan bahawa mereka sebenarnya jahil mengenai Rasulullah SAW. Persoalannya, adakah semasa hayat baginda ia memberi kesan? Sedangkan kesan hanya datang daripada Allah SWT sebagai Khaliq, tiada makhluk yang memberi kesan. Tiada siapa pun boleh mendakwa bahawa Rasulullah SAW boleh memberi kesan secara peribadi semasa hayatnya. Kerana dakwaan itu telah disepakati boleh membawa kerosakan akidah.

Para sahabat mengambil berkat daripada kesan-kesan baginda, bukan kerana baginda boleh memberi kesan. Tetapi baginda adalah seafdal-afdal manusia di muka bumi ini. Seluruh makhluk di langit atau di bumi, hanya Rasulullah SAW sahaja orang yang menjadi kesayangan Allah SWT. Baginda juga menjadi rahmat Allah kepada seluruh alam. Ia adalah tawassul disebabkan Rasulullah SAW sangat akrab dengan Allah SWT, melalui bagindalah seluruh makhluk mendapat rahmat daripada Allah SWT.
Jelas Tok Guru Nik `Abdul `Aziz tidak anti - tawassul dan tabarruk, bahkan Tok Guru dengan tegas menyatakan bahawa mereka - mereka yang melarang bertawassul dengan Junjungan Nabi s.a.w. setelah baginda wafat adalah orang-orang yang sesat yang tidak ada kasih dalam hati mereka kepada Junjungan Nabi SAW. Maka hendaklah kalian ambil perhatian. Bahkan Tok Guru sewaktu perasmian bangunan Pusat Tarbiyyah Islam Kelantan (PUTIK) pada 23 Ogos 2001 telah memperkenalkan Doa an-Nashiri yang disusun oleh seorang waliyullah Sidi Muhammad bin Nashir ad-Dar`i rahimahUllah. Dalam doa tersebut terkandung tawassul dengan Junjungan Nabi SAW dan para awliya` pelbagai maqam seperti quthub, awtad, abdal, nujaba` dan nuqaba`. Oleh itu kalau pun tak mahu bertawassul, janganlah mudah-mudah menuduh orang yang bertawassul sebagai syirik dan sebagainya. Moga taufiq dan hidayahnya Allah dianugerahkanNya kepada kita sekalian berkat jah Sayyidina wa Mawlana Muhammad SAW yang menjadi rahmat bagi sekalian alam.

***********************************************
Akhiran Doa an-Nashiri


Khamis, Jun 05, 2008

Tawassul - Habib Zain

Tawassul dan istighatsah adalah amalan para ulama kita Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Tidak ada ulama Sunni yang menentang amalan bertawassul dan beristighatsah dengan Junjungan Nabi s.a.w. dan para sholihin, sama ada sewaktu hayat mereka maupun setelah wafat. Yang menentang hanyalah mereka yang suka benar sendiri dan menghukum orang lain sebagai sesat, bid'ah dan sebagainya. Dan antara sandaran mereka untuk menghalang dari bertawassul dan beristighasah dengan para anbiya' dan awliya' yang telah wafat adalah atsar Sayyidina 'Umar bertawassul dengan Sayyidina 'Abbas r.a. Dengan bangganya mereka mendakwa bahawa "Inilah bukti yang kita tidak boleh bertawassul dengan orang yang telah mati". Benarkah begitu?

Antara ulama kita yang masih berada di dunia yang fana ini, semoga Allah memanjang dan memberkati usia beliau, adalah al-'Allaamah al-Faqiih al-Habib Zain bin Ibrahim BinSumaith. Dalam karyanya yang berbentuk soal-jawab yang berjodol "al-Ajwibah al-Ghaaliyah", beliau (hafizahUllah) menjelaskan berhubung persoalan ini. Pada halaman 77 - 79, beliau menulis:-

S: Jika bertawassul dengan orang-orang yang telah meninggal itu hukumnya jaiz (harus), maka kenapakah Khalifah 'Umar bin al-Khaththab bertawassul dengan Sayyidina 'Abbas dan bukannya dengan Junjungan Nabi s.a.w.?

J: Telah menjawab para ulama : Adapun tawassul Sayyidina 'Umar r.a. dengan Sayyidina 'Abbas r.a. bukanlah dalil yang menunjukkan ketidakharusan bertawassul dengan orang yang telah wafat meninggal dunia. Bahawasanya tawassul Sayyidina 'Umar dengan Sayyidina 'Abbas dan bukannya dengan Junjungan Nabi s.a.w. adalah untuk menjelaskan kepada manusia bahawa tawassul dengan selain Junjungan Nabi s.a.w. adalah harus yakni boleh (jaiz) dan tidak apa-apa (yakni tidak berdosa). Dan dikhas bertawassul dengan Sayyidina 'Abbas r.a. daripada sekalian sahabat adalah untuk menzahirkan kemuliaan keluarga Junjungan Rasulullah s.a.w.

S: Apakah dalilnya bagi yang sedemikian?

J: Dalil bagi yang sedemikian adalah bahawasanya telah sabit tawassul sahabat dengan Junjungan Nabi s.a.w. selepas baginda wafat. Antaranya, apa yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shohih: "Sesungguhnya manusia menghadapi kemarau pada zaman pemerintahan Sayyidina 'Umar r.a., lalu Sayyidina Bilal bin al-Haarits r.a. mendatangi (menziarahi) makam Junjungan Nabi s.a.w. seraya berkata: "Ya RasulAllah, mohonlah hujan bagi umatmu kerana mereka menuju kebinasaan (yakni akibat kemarau tersebut)." Setelah itu, Sayyidina Bilal bin al-Haarits telah bermimpi didatangi Junjungan Nabi s.a.w. dan baginda bersabda kepadanya: "Pergilah kepada 'Umar bin al-Khaththab, sampaikan salamku dan maklumkanlah bahawa mereka akan mendapat hujan." Sayyidina Bilal bin al-Harits pun pergi berjumpa dengan Sayyidina 'Umar dan menyampaikan salam dan pesanan Junjungan Nabi s.a.w. tersebut, lalu menangislah Sayyidina 'Umar r.a. dan mereka pun mendapat hujan."

S: Bagaimanakah hadits tersebut dapat dijadikan dalil?

J: Dalilnya adalah pada perbuatan Sayyidina Bilal tersebut yang merupakan seorang sahabat dan pada sikap Sayyidina 'Umar serta lain-lain sahabat yang tidak mengingkari perbuatan tersebut (yakni jikalah perbuatan Sayyidina Bilal untuk beristighatsah kepada Junjungan Nabi s.a.w. itu satu kesalahan, maka pasti Sayyidina 'Umar dan para sahabat yang lain akan mengingkarinya). Dan antara dalil lain adalah apa yang dikeluarkan oleh ad-Darimi: " Penduduk Kota Madinah telah menghadapi kemarau teruk, lalu mereka mengadu kepada Sayyidatina 'Aisyah r.'anha. Ummul Mu'minin Sayyidatina 'Aisyah berkata kepada mereka: (Pergilah) lihat kubur Nabi s.a.w. dan buatkanlah satu lubang atasnya yang tembus ke langit sehingga tidak ada atap (naungan) di antara kubur tersebut dengan langit. Maka mereka pun melakukannya, lalu turunlah hujan lebat sehingga tumbuh - tumbuhan hidup dengan subur dan unta-unta menjadi gemuk sehingga kulitnya seakan-akan pecah kerana lemak, maka dinamakan tahun tersebut "aamul fatqah" (tahun pecah-pecah (yakni melambangkan kesuburan kerana kulit unta-unta tersebut seolah-olah pecah-pecah kerana terlalu gemuk)."

KESIMPULAN: Bahawsanya bertawassul itu adalah harus (jaiz / mubah) , sama ada dengan amal-amal sholih ataupun dengan pelaku-pelaku amal sholih tersebvt iaitu para sholihin, sama ada dengan mereka-mereka yang masih hidu p ataupun yang sudah wafat meninggal dunia. Bahkan perbuatan bertawassul ini telah berlaku atas setiap keadaan hatta sebelum penciptaan Junjungan Nabi s.a.w. (yakni sebagaimana terjadinya tawassul Nabi Adam a.s. dengan Junjungan Nabi s.a.w. sebelum Baginda Nabi s.a.w. dilahirkan).
Allahu ... Allah, jadi tawassul Sayyidina 'Umar r.a. itu dengan paman Junjungan Nabi s.a.w., Sayyidina 'Abbas r.a., adalah menunjukkan bahawa boleh kita bertawassul dengan orang yang kedudukan dan maqamnya lebih rendah daripada Junjungan Nabi s.a.w. Dan bukanlah dalil bagi menghalang kita untuk bertawassul dengan orang yang telah mati. Logikanya, kita bertawassul dengan Junjungan Nabi s.a.w. atau para sholihin adalah kerana kedudukan dan maqam mereka yang mulia dan tinggi di sisi Allah s.w.t., maka ketahuilah yang kedudukan dan maqam ini tidaklah hilang dengan kewafatan mereka. Junjungan Nabi s.a.w. tetap RasullUllah, HabibUllah, NabiyUllah baik sewaktu hayat baginda dikandung badan, maupun selepas kewafatan baginda menuju kehidupan yang abadi.

Allahu ... Allahu Rabbi
Inilah istimewa maqam di sisi Ilahi
Berbeza dengan maqam duniawi
Lihat dulu dia perdana menteri
Sekarang sudah mantan perdana menteri
Dulu dia kerna kedudukannya dipuji tinggi
Kini dia pula dicaci dikeji
Sampai dikata "dalam daging dialah duri"
Sehingga mantan membawa hati
Lalu keluarlah dia dari parti
Ini hanya sekadar perbandingan diperi
Bukan tujuan menghina dan mengeji
Fa'tabiruuuuuu wahai mereka yang sudi
Maka jangan kita lupa diri
Walau sudah di dunia berjawatan tinggi
Ditabik orang lagi dihormati
Jangan lupa kita usaha dan cari
Capai kedudukan dan maqam sejati
Yang boleh dibawa selepas mati
Bukan hanya sibukkan kedudukan duniawi
Kedudukan yang hanya setakat mati
Atau yang hilang setelah berhenti

Rabu, Disember 14, 2005

Fitnatul Wahhabiyyah - The menace of Wahhabism

by Mawlana Shaykhu-l-Islam Ahmad Zayni Dahlan al-Makki ash-Shafi'i
(Chief Mufti of Mecca al-Mukarramah). May Allah be pleased with him

Introduction

  • During the reign of Sultan Salim III (1204-1222 AH) many tribulations took place. One was the tribulation of the Wahhabiyyah which started in the area of al-Hijaz(1) where they captured al-Haramayn(2), and prevented Muslims coming from ash-Sham(3) and Egypt from reaching their destination to perform Pilgrimage (Hajj). Another tribulation is that of the French who controlled Egypt from 1213 A.H. until 1216 A.H. Let us here speak briefly about the two adversities(4), because each was mentioned in detail in the books of history and in separate treatises.

Background On The Tribulations Of The Wahhabis

  • The fighting started between the Wahhabis and the Prince of Mecca, Mawlana Sharif Ghalib Ibn Bu Sa'id, who had been appointed by the honored Muslim Sultan as his ruling representative over the areas of al-Hijaz. This was in 1205 AH during the time of Sultan Salim III, the son of Sultan Mustafa III, the son of Ahmad. Previous to the outbreak of fighting, the Wahhabis began to build power and gain followers in their areas. As their territories expanded, their evil and harm increased They killed countless numbers of Muslims, legitimated confiscating their money and possessions, and captured their women.
  • The founder of their wicked doctrine was Muhammad Ibn 'Abdul-Wahhab, who originated from eastern Arabia, from the tribe of Banu Tamim. He lived a long life, about one-hundred years. He was born in 1111 AH and died in 1200 AH.
  • His history was narrated as follows:
    Muhammad Ibn 'Abdul-Wahhab started as a student of knowledge in the city of the Prophet, sallallahu 'alayhi wa sallam: Medina al-Munawwarah. Ibn 'Abdul-Wahhab's father was a good, pious man among the people of knowledge as was his brother, Shaykh Sulayman. His father, his brother, and his shaykhs (teachers of religion) had the foresight Ibn 'Abdul-Wahhab would innovate a great deal of deviation and misguidance, because of their observance of his sayings, actions, and inclinations concerning many issues. They used to reprimand him and warn people against him.

Some Of The Beliefs Of Ibn 'Abdul-Wahhab

  • What Ibn 'Abdul-Wahhab's father, brother, and shaykhs speculated about him came true-by the Will of Allah, Ta'ala. Ibn 'Abdul-Wahhab innovated deviant and misleading ways and beliefs and managed to allure some ignorant people to follow him. His deviant and misleading ways and beliefs disagreed with the sayings of the scholars of the Religion. His deviant beliefs led him to label the believers as blasphemers! He falsely claimed visiting the grave of the Prophet, sallallahu 'alayhi wa sallam, and performing the tawassul(5) by him as shirk(6). Additionally, he falsely claimed visiting the graves of other prophets and righteous Muslims (awliya') and performing tawassul by them was shirk as well. He added to this by saying, "To call upon the Prophet, sallallahu 'alayhi wa sallam, when performing tawassul by the Prophet is shirk." He passed the same judgment of shirk on the ones who call upon other prophets and righteous Muslims (awliya') in performing tawassul by them. In an effort to give credibility to his innovations Ibn 'Abdul-Wahhab embellished his sayings by quotations which he selected from Islamic sources, i.e., quotations which are used as proofs for many issues but not the issues which Ibn 'Abdul-Wahhab was attempting to support. He brought false statements and tried to beautify them for the laymen until they followed him. He wrote treatises for them until they believed that most of the People of Tawhid(7) were blasphemers.

Alliance With The Saudi Family

  • Moreover, Ibn 'Abdul-Wahhab called upon the princes of eastern Arabia and the people of ad-Dar'iyyah(8) to support him. They carried his doctrine and made this endeavor a means to strengthen and expand their kingdom. They worked together to suppress the Bedouins of the deserts until they overcame them and those Bedouins followed them and became foot-soldiers for them without pay. After that, these masses started to believe that whoever does not believe in what Ibn 'Abdul-Wahhab said is a blasphemer, and it is Islamically lawful (halal) to shed his blood and plunder his money.
  • The matter of Ibn 'Abdul-Wahhab started to evidence itself in 1143 A.H. and began spreading after 1150 A.H. Subsequently, the scholars -- even his brother, Shaykh Sulayman and the rest of his shaykhs -- authored many treatises to refute him. But Muhammad Ibn Su'ud, the Prince of ad-Dar'iyyah in eastern Arabia, supported him and worked to spread his ideology. Ibn Su'ud was from Banu Hanifah, the people of Musaylimah al-Kadhdhab(9). When Muhammad Ibn Su'ud died, his son 'Abdul-'Aziz Ibn Muhammad Ibn Su'ud took over the responsibility of fulfilling the vile task of spreading the Wahhabi beliefs.
  • Many of the shaykhs of Ibn 'Abdul-Wahhab in Medina used to say, "He will be misguided, and he will misguide those for whom Allah willed the misguidance." Things took place as per the speculation of the scholars. Ibn 'Abdul-Wahhab claimed his intention behind the madhhab he invented was "to purify the Tawhid" and "repudiate the shirk." He also claimed people had been following the shirk for six-hundred years and he revived their Religion for them!!

The Methodology of Ibn 'Abdul-Wahhab

  • Ibn 'Abdul-Wahhab took the verses revealed to speak about the blasphemers and applied them to the Muslims.
  • The following examples from the Qur'an illustrate this point. Allah, ta'ala, said in Surat al-Ahqaf, Ayah 5: "Who is more astray than the one who performs supplication (du'a`) to [worship] other than Allah; the one other than Allah he supplicates to will not answer his du'a'."
  • Allah ta'ala said in Surat Yunus, Ayah 106 :"Do not perform supplication (du'a') to [worship] other than Allah; the one other than Allah you supplicate to will not benefit you and will not harm you".
  • The verses in the Qur'an similar to these ones are numerous. Muhammad Ibn 'Abdul-Wahhab gravely misinterpreted the previously cited verses and said: "The Muslim who asks help from the Prophet, sallallahu 'alayhi wa sallam, other prophets, or the righteous people (salihun), or who calls or asks any of them for intercession is like those blasphemers mentioned in the Qur'an." According to the false claim of Ibn 'Abdul-Wahhab, the Muslims who do these things are blasphemers.
  • He also considered visiting the grave of Prophet Muhammad and the graves of other prophets and righteous Muslims for blessings as blasphemy. Allah revealed Ayah 3 of Surat az-Zumar in reference to the mushrikun: "Those who worship the idols said: "We do not worship them except to achieve a higher status from Allah." Ibn 'Abdul-Wahhab falsely stated: "Those who perform tawassul (asking Allah by the prophets, for example) are similar to those blasphemers mentioned in Surat az-Zumar, Ayah 3, who claim they do not worship the idols except to achieve a higher status from Allah." He said: "The blasphemers did not believe the idols create anything; they believed Allah is the Creator." He gave his version of proof from the Qur'an by citing Surat Luqman, Ayah 25 and Surat az-Zumar, Ayah 38, in which Allah said: "If you ask them, "Who created the heavens and earth?" They will say, "Allah". In Surat az-Zukhruf, Ayah 87, Allah said: "If you ask them, "Who created them?" They will say,"Allah". Ibn 'Abdul-Wahhab falsely concluded from these verses that the Muslims who perform tawassul are similar to those blasphemers.

The Scholars refute Ibn 'Abdul-Wahhab

  • In their writings to refute Ibn 'Abdul-Wahhab's sayings, the scholars said his deduction was false. The believers did not consider the prophets or the awliya' as gods and they did not deem them partners to Allah. Instead, they correctly believe the prophets and awliya' are good slaves and creations of Allah, and they do not deserve to be worshipped.
  • The blasphemers intended in these verses believed their idols deserved Godhood. They exalted them as one would exalt his Creator, even though they believed the idols did not create the heavens and the earth. The believers, on the other hand, do not believe the prophets or righteous Muslims (awliya') deserve to be worshipped, nor do they deserve to be attributed with Godhood, nor do they exalt them as one would exalt God. They believe these people are good slaves of Allah, His beloved ones whom He chose, and by their blessings (barakah) Allah grants His mercy to His creation. Hence, when the slaves of Allah seek the blessings (barakah) of the prophets and righteous Muslims (awliya') they are seeking these blessings as a mercy from Allah.
  • There are many proofs and examples from the Qur'an and Sunnah about this basic belief of the Muslims. Muslims believe Allah is the Creator, the One Who grants benefit and inflicts harm, and the only One Who deserves to be worshipped. Muslims believe that no one other than Allah has the power to affect the creation. The prophets and righteous people do not create anything. They do not possess the power to bestow benefit or inflict harm on others, but Allah is the One Who bestows the mercy upon the slaves by the righteous Muslims' blessings.
  • Hence, the belief of the blasphemers, i.e., the belief their idols deserve to be worshipped and have Godhood, is what makes them fall into blasphemy. This saying of the blasphemers, as previously cited in Surat az-Zumar, Ayah 3, was said in an effort to justify their belief when they were disproved and shown idols do not deserve to be worshipped.
  • How can Ibn 'Abdul-Wahhab and those who follow him find it permissible to equate the believers, who believed in Tawhid, to those blasphemers, who believed in the Godhood of the idols ? All the previously cited verses and the verses which are similar to them are specific to the blasphemers who associate partners with Allah -- none of the believers are included.
  • Al-Bukhari narrated by the route of Ibn 'Umar, may Allah raise their ranks, that the Prophet, sallallahu 'alayhi wa sallam, described the Khawarij as those who took the verses revealed about the blasphemers and attributed them to the believers !
  • In the narration by the route of Ibn 'Umar the Prophet said: "What I fear most for my nation is a man who mis-explains the Qur'an and takes it out of context."

Proofs For Tawassul - The Permissibility of Asking Allah for things by some of His Creation.

  • If performing tawassul had been blasphemy, then the believers, i.e., the Prophet, sallallahu 'alayhi wa sallam, his Companions, and the Salaf and Khalaf of this nation would not have done it. Yet it is mentioned in the sahih hadith of the Prophet that the Prophet used to ask Allah by saying:"O Allah, I ask You by the status of those who ask You.(10) "
  • Without doubt, this is tawassul. The Prophet, sallallahu 'alayhi wa sallam, used to teach this supplication (du'a`) to his Companions and order them to say it. This issue was expounded upon in different books and treatises refuting Ibn 'Abdul-Wahhab.
  • There is a hadith related by al-Hakim that mentions after Adam ate from the tree, he performed tawassul by our Prophet, sallallahu 'alayhi wa sallam. He did that, because he saw the name of the Prophet written on the 'Arsy, Adam said: "O Allah, by the dignity of this son [Muhammad], forgive this father [Adam]."
  • It was also related by Ibn Hibban, that upon the death of Fatimah binti Asad, may Allah raise her rank, the Prophet, sallallahu 'alayhi wa sallam, with his own honorable hands, put her in her grave and said: "O Allah, forgive my mother(11), Fatimah binti Asad, and widen her place by the status of Your Prophet and the prophets who came before me. You are the most Merciful."
  • There is a hadith classified as sahih(12), that a blind man asked the Prophet, sallallahu 'alayhi wa sallam, to make a supplication (du'a`) to Allah to return his sight. The Prophet ordered him to make ablution (wudu`) and pray two rak'ahs and then say: "O Allah, I ask You and direct myself to You by Your Prophet, Muhammad, the Prophet of Mercy. O Muhammad, I ask Allah by you to fulfill my need. O Allah, enable him to intercede for me." The blind man did what the Prophet taught him to do(13) and Allah brought his sight back. Moreover, as related by at-Tabarani, the tawassul made by the blind man was used by the Companions and Salaf after the death of the Prophet.
  • 'Umar Ibn al-Khattab performed the tawassul by al-'Abbas (the uncle of the Prophet), may Allah reward their deeds, when he prayed the Salah of 'Istisqa`(14) with the people. There are other proofs mentioned in the books of the Islamic scholars but we will not recount them at length here.
  • The one who pursues the saying of the Companions and their followers will find a great deal of proof about the validity of calling the prophet by saying "O Muhammad" in his presence as well as in his absence and in his life as well as after his death. In fact, many texts include the phrase which means, "O Muhammad". Calling the name of the Prophet, sallallahu 'alayhi wa sallam, is permissible.
  • An example is the saying of the Companion, Bilal Ibn al-Harith, may Allah reward his deeds, when he went to the grave of the Prophet. He said: "O Messenger of Allah, ask Allah to send rain to your Nation." His saying contains this format(15).
  • Shaykh Muhammad Ibn Sulayman al-Kurdi(16) was among the authors who wrote refuting Ibn 'Abdul-Wahhab. He was Ibn 'Abdul-Wahhab's own shaykh. Among what he said is as follows: "O Ibn 'Abdul-Wahhab, I advise you, for the sake of Allah, ta'ala, to hold your tongue regarding the Muslims. If you hear from anyone who asks for help from other than Allah that one has the power to effect things without the Will of Allah, then teach him the right thing about this issue, and show him the proofs which state no one other than Allah brings things from non-existence into existence. The one who rejects that is blasphemous. You have no right to label the majority of the Muslims as blasphemers(17) while you are deviant from the majority of the Muslims. In fact, it is more reasonable to consider the one who deviates from the majority of the Muslims as a blasphemer then to consider the Muslims as a nation as blasphemers -- because the deviant one has followed a path other than the path of the believers. In Surat an-Nisa', Ayah 15, Allah said: "Whomever contends with the Messenger after the right path was exposed to him and follows other than the way of the believers, Allah will leave him to whatever he followed and put him in Hell (Jahannam)".


The Permissibility Of Visiting The Grave Of The Prophet

  • Visiting the grave of the Prophet, sallallahu 'alayhi wa sallam, was performed by the Companions and the Salaf and Khalaf who came after them. Many hadiths cite the benefit of this deed and the scholars of Islam have written books about this matter(18).

Calling On Someone Other Than Allah

  • Among of what was mentioned concerning calling on someone other than Allah, whether that one is present, absent, dead or alive, is the saying of the Prophet: "If the animal of anyone of you went out of control in the wilderness, then call: `O slaves of Allah, help me', since there are slaves of Allah [i.e. the angels] who will respond to him".
  • There is another hadith related by al-Bazzar in which the Prophet said: "If one of you lost something or needs help while in an open land, then let him say: 'O slaves of Allah, help me.'" Another narration says, "Rescue me", because Allah has created slaves whom you do not see."
  • When traveling at nightfall the Prophet, sallallahu 'alayhi wa sallam, used to say:"O earth, my Lord and your Lord is Allah."
  • When the Prophet visited the grave of Muslims, he used to say:"O people of the graves, peace be upon you."
  • In the Tashahhud in as-Salah the Muslim says:"O Prophet of Allah, may Allah protect you from infirmities, and have mercy and blessings on you."
  • There is no harm in calling on and performing tawassul by someone unless one believes that someone other than Allah actually creates things. Hence, as long as one believes that only Allah creates them, there is no harm in performing tawassul. Likewise, attributing a certain doing to other than Allah does not harm unless one believes this doer actually creates. So once it is established the person does not believe the creating is for other than Allah then attributing a doing to other than Allah is understood in its proper context. When one says: "This medicine benefited me," or "This particular righteous Muslim benefited me," he is merely exposing the created reason of the benefit. These statements are also similar to when one says: "This food satisfied my hunger," or "This water quenched my thirst," or "This medicine cured me." When Muslims say such statements, they understand them in their proper context, i.e., food, water, and medicine are only reasons, and Allah is the Creator of their benefit.
  • The general proofs mentioned in this summary are enough to refute Ibn 'Abdul-Wahhab. The scholars of Islam have expounded on this issue in several treatises.

Footnotes:

1 Al-Hijaz refers to the western part of Arabia which includes Mecca and Medina.

2 Al-Haramayn refers to Mecca and Medina.

3 Ash-Sham refers to the area that includes Syria, Lebanon, Jordan, and Palestine.

4 Only the first adversity will be presented in this booklet.

5 Tawassul is asking Allah for goodness by a prophet, righteous believer, etc.

6 Shirk refers to associating partners to Allah.

7 The People of Tawhid refers to the Muslims.

8 Ad-Dar'iyyah is a region north of the city of Riyadh, Saudi Arabia.

9 Musaylimah al-Kadhdhab was a blasphemous man who claimed the status of prophethood for himself after the death of Prophet Muhammad. He was killed by the Muslims during the caliphate of Abu Bakr, may Allah raise his rank.

10 Ibn Majah and others related this hadith and al-Hafidzh Ibn Hajar, deemed it a strong hadith.

11 The Prophet called her "my mother"out of likening her to his real mother.

12 Sixteen hafidzhs of hadith classified this hadith as sahih, including at-Tirmidhi, at-Tabarani, al-Bayhaqi, as-Subki, among others.

13 It is clear in the narrations of this hadith, the blind man was not in the session of the Prophet when he did as the Prophet ordered him.

14 Salah of Istisqa` refers to performing a specific prayer which includes making supplication for rain.

15 Al-Bayhaqi related this hadith and classified it as sahih.

16 Shaykh Muhammad Ibn Sulayman al-Kurdi was the one who wrote al-Hashiyah on the explanation of Ibn Hajar to the text of Bafadl.

17 It is mentioned in a hadith it is easier for the devil to trick the lonely person who is away from other Muslims. The Prophet, sallallahu 'alayhi wa sallam, while encouraging the Muslims to perform the prayers in congregation said: "Moreover, the wolf will eat the lonely lamb."

18 Among these hadiths is the one related by ad-Daraqutni that the Prophet said: "On the Day of Judgment, I will intercede for the one who visits my grave with the good intention."







Inilah antara tulisan al-'Alim al-'Allamah, Syaikhul Islam, Mawlana Syaikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Ketua Ulama dan Mufti Syafi`i di Makkah. Patutlah geng Wahhabi marah sangat dengan Sayyidi Ahmad. Jom, bangkit pertahankan ulama kamu, wahai Sunniyun Syafi`iyyun. Jangan kalah dengan Wahhabi yang hanya tahu memutar belitkan ayat al-Qur`an dan hadits.

Isnin, Julai 21, 2008

Tawassul - Buya Maliki

Menurut mazhab dan pegangan kita Ahlus Sunnah wal Jama`ah, perbuatan bertawassul dengan Junjungan Nabi s.a.w. adalah dibenarkan tanpa mengira sama ada tawassul dengan baginda s.a.w. tersebut dilakukan sewaktu baginda masih berada di alam dunia yang fana ni ataupun setelah keberangkatan baginda ke alam barzakh dan alam baqa. Ini adalah kerana kita Ahlus Sunnah wal Jama'ah beri'tiqad bahawa yang memberi bekas dan yang berkuasa hanya Allah dan orang yang dijadikan wasilah tidak mempunyai kuasa dan tidak memberi bekas, hanyasanya mereka dijadikan wasilah kerana maqam kedudukan dan kemuliaan mereka di sisi Allah yang Maha Berkuasa. Jadi keadaan hidup atau mati mereka, tidak menjadi halangan untuk menjadikan mereka wasilah. Yang penting adalah maqam dan darjat keutamaan mereka di sisi Allah s.w.t.

Telah tsabit bahawa Nabi Adam a.s. bertawassul dengan Junjungan Nabi s.a.w. sebelum kelahiran baginda di alam dunia ini. Ini adalah kerana yang dijadikan wasilah tersebut adalah keadaan maqam dan darjat Junjungan di sisi Allah s.w.t., maka perkara ini tidaklah bersangkutan dengan kehidupan baginda di alam dunia ini. Baginda adalah seorang nabi dan rasul yang paling utama dan paling mulia hatta sebelum baginda memulakan kehidupan duniawi baginda, dalam kehidupan duniawi baginda dan selepas kehidupan duniawi ini. Tidakkah para nabi dan rasul yang diutuskan sebelum baginda telah menyatakan keimanan mereka kepada kerasulan baginda. Bukankah para nabi terlebih lagi diri Junjungan s.a.w. adalah ma'shum sejak dilahirkan. Bi'tsah dan mulanya turun wahyu hanyalah sebagai titik permulaan menjalankan tugas-tugas kerasulan menyeru umat kepada Allah s.w.t. Maka kata-kata yang mengatakan bahawa sebelum menerima wahyu, Junjungan Nabi s.a.w. hanya seorang "budak kampung" adalah perkataan yang buruk adab dan mencarik kemuliaan Junjungan Nabi s.a.w. Marilah kita renungi firman Allah yang Maha Agung dalam surah ash-Shaff ayat 6:-

"Dan (ingatlah juga peristiwa) ketika Nabi 'Isa ibni Maryam berkata: "Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu, mengesahkan kebenaran Kitab yang diturunkan sebelumku, iaitu Kitab Taurat, dan memberikan berita gembira dengan kedatangan seorang Rasul yang akan datang kemudian daripadaku - bernama Ahmad". Maka tatkala ia datang kepada mereka membawa keterangan-keterangan yang jelas nyata, mereka berkata: "Ini ialah sihir yang jelas nyata!"
Sebagai umat Islam, kita tentu beriman dengan adanya kehidupan akhirat, maka maklumlah kita bahawa maqam dan kedudukan serta darjat ketinggian baginda Muhammad s.a.w. tetap tinggi bahkan terus meninggi biarpun baginda telah berpindah ke alam barzakh. Maka apa masalahnya jika seseorang bertawassul dengan baginda setelah kewafatan baginda. Orang yang menegah bertawassul dengan Junjungan s.a.w. selepas kewafatan baginda adalah orang yang tidak tahu ukuran darjat dan maqam Junjungan Nabi s.a.w. 'Allaamah al-Muhaddits Prof. Dr. Habib Muhammad bin 'Alawi al-Maliki al-Hasani rhm. dalam "Mafaahiim yajibu an tushahhah" halaman 50 menyatakan sebagai berikut:-

Beberapa faedah penting dari hadits tawassul Nabi Adam

Dalam hadits tersebut tawassul dengan Junjungan Rasulullah s.a.w. adalah sebelum alam ini menerima kemuliaan baginda dengan kewujudan (keberadaan) Junjungan s.a.w. padanya. Maka sesungguhnya pokok pangkal bagi keabsahan tawassul adalah orang dijadikan wasilah hendaklah ada padanya kadar kemuliaan yang tinggi di sisi Tuhannya 'azza wa jalla. Dan tidaklah disyaratkan keadaan orang tersebut hidup di alam dunia.

Dan dari itu, diketahui bahawasanya pendapat yang mengatakan tawassul tidak boleh dilakukan dengan seseorang melainkan pada waktu hidupnya di dunia, adalah pendapat orang yang menurut hawa nafsu tanpa petunjuk daripada Allah.
Allahu ... Allah, sungguh kalam orang yang menafikan bertawassul dengan para kekasih Allah selepas kewafatan mereka adalah kalam yang bahaya dan itulah sebenarnya yang boleh membawa kepada syirik kerana seolah-olah memberi gambaran orang yang hidup boleh memberi bekas, manakala orang yang mati sudah tidak boleh memberi bekas. Sedangkan di sisi Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang memberi bekas hanya Allah 'azza wa jalla. Allahumma, janganlah Engkau jadikan kami dari kalangan orang - orang yang menurut hawanafsunya dan kosong daripada petunjukMu.

*******************************
يا سيدي يا رسول الله


Khamis, September 16, 2010

Berwasilahkan Junjungan SAW

Berdoa atau memanjatkan sesuatu permohonan kepada Allah melalui Junjungan Nabi SAW, itu namanya berwasilah kepada Allah dengan Junjungan Nabi SAW. Inilah antara rupa bentuk tawassul dengan Junjungan Nabi SAW. Apabila bertawassul, tidaklah bererti kita menjadikan wasilah itu sebagai matlamat, namanya pun wasilah. Junjungan Nabi SAW pernah berwasilah dengan segala anbiya` yang diutuskan sebelum baginda, bahkan Junjungan pernah berwasilah dengan hak para hamba Allah yang memohon kepadaNya dan yang berjalan menuju ke masjid (atau yang menjalani jalan menuju kepada Allah SWT). Maka tidaklah menghairankan jika kaum muslimin, para ulama dan awamnya, turut mengamalkan tawassul dalam permohonan-permohonan mereka, teristimewa pula dengan Wasilatul 'Udhzma, Junjungan Nabi SAW.

Apabila Tuanku Muhammad Faris (moga-moga Allah memelihara baginda dan menjadikan baginda pemerintah sholeh yang menjadi payung kepada sekalian rakyat Kelantan dan Malaysia) dimasyhurkan sebagai Sultan Kelantan yang baru, sampai ke pengetahuan alfaqir yang perwartaan Perwawai Undang-Undang Perlembagaan Tubuh Kerajaan Kelantan dalam Warta Kerajaan Kelantan pada 22 Julai 2010, juga diakhiri dengan permohonan rahmat daripada Allah SWT berwasilahkan Junjungan Nabi SAW. Ini menunjukkan bahawa amalan bertawassul atau berwasilah dengan Junjungan Nabi SAW telah sebati dengan amalan kaum Muslimin zaman berzaman. Pada akhir undang-undang yang penting tersebut dinyatakan sebagai berikut:-
"Mudah-mudahan ALLAH yang Maha Kuasa melalui junjungan KITA NABI MUHAMMAD (Sallallahu 'alaihi wassalam) melimpahkan rahmatNya kepada Undang-Undang Perlembagaan Tubuh Kerajaan Kelantan (Bahagian Yang Kedua) (Pindaan) 2010 ini selama-lamanya."
Terjemahannya dalam Bahasa Inggeris pula dengan jelas bertawassul dengan "greatness" atau jah atau kemegahannya Junjungan Nabi SAW. Ianya berbunyi sebagai berikut:-
"May Allah, Lord of the Universe, through the Greatness of OUR PROPHET MUHAMMAD (Sallallahu 'alaihi wassalam) grant His Blessing to this Law of the Constitution of Kelantan (Second Part) (Amendment) 2010 for ever and ever."
Oleh itu, janganlah nak menghukum sembarangan kaum muslimin yang memohon kepada Allah berwasilahkan Junjungan Nabi SAW. Sesungguhnya kaum Muslimin kenal siapa al-Khaliq dan siapa makhluk. Sebagai peringatan bagi semua umumnya dan khususnya bagi para pencinta, penyokong, pengkagum Tuan Guru Nik Aziz (moga-moga Allah memberikan beliau umur yang panjang dengan kesihatan yang baik serta membimbing beliau agar sentiasa berada dan berbetulan atas jalan Ahlus Sunnah wal Jama`ah yang sebenar), ese ulangkan kembali pandangan beliau mengenai tawassul kepada Junjungan Nabi SAW. Perkara ini ese dah tulis dalam posting terdahulu bawah tajuk "Tawassul -TG Nik Aziz". Di sini ese suka menukilkan lagi pandangan beliau yang dinyatakan dalam karya beliau "Rasulullah Muhammad S.A.W. insan teladan sepanjang zaman", pada halaman 175 - 176, Tok Guru menulis, antara lain:-
Oleh yang demikian, apabila telah mengetahui bahawa mengambil berkat dengan sesuatu itu bererti mencari kebaikan melaluinya. Maka fahamlah bahawa bertawassul ataupun bertabarruk dengan kesan-kesan baginda itu adalah suatu perkara yang digalak dan disyariatkan oleh Islam. Lebih-lebih lagi mengambil berkat daripada zat Nabi yang mulia.

Mengambil berkat daripada kesan Nabi itu tiada beza antara semasa hidup ataupun selepas baginda wafat. Kerana para sahabat di zaman hidup Rasulullah SAW mengambil berkat dengan air basuhan wuduk baginda, ataupun air peluh dan juga air ludah serta rambut baginda. Kesan-kesan itu sama sahaja selepas wafatnya, semuanya bukanlah suatu yang hidup dan keadaannya sama semasa hayat baginda.

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Sahih Bukhari. Ramai orang menjadi sesat selepas kewafatan Rasulullah SAW, kerana dalam hati mereka tiada kasih kepada baginda. Mereka telah menidakkan tawassul terhadap zat baginda selepas wafatnya. Mereka menganggap bahawa kesan keberkatan Rasulullah SAW itu telah habis apabila baginda wafat. Jika bertawassul selepas baginda wafat bererti bertawassul kepada suatu yang tidak berkesan.

Hujah seperti itu menunjukkan bahawa mereka sebenarnya jahil mengenai Rasulullah SAW. Persoalannya, adakah semasa hayat baginda ia memberi kesan? Sedangkan kesan hanya datang daripada Allah SWT sebagai Khaliq, tiada makhluk yang memberi kesan. Tiada siapa pun boleh mendakwa bahawa Rasulullah SAW boleh memberi kesan secara peribadi semasa hayatnya. Kerana dakwaan itu telah disepakati boleh membawa kerosakan akidah.

Para sahabat mengambil berkat daripada kesan-kesan baginda, bukan kerana baginda boleh memberi kesan. Tetapi baginda adalah seafdal-afdal manusia di muka bumi ini. Seluruh makhluk di langit atau di bumi, hanya Rasulullah SAW sahaja orang yang menjadi kesayangan Allah SWT. Baginda juga menjadi rahmat Allah kepada seluruh alam. Ia adalah tawassul disebabkan Rasulullah SAW sangat akrab dengan Allah SWT, melalui bagindalah seluruh makhluk mendapat rahmat daripada Allah SWT.
الله ربي، محمد نبي
الله يا الله بجاه رسول الله
الله يا الله بجاه رسول الله
الله يا الله بجاه رسول الله
صلى الله عليه و سلم

Rabu, Januari 25, 2023

Tawassul - Syahid Hasan al-Banna

Dahulu zaman sibuk ber"haraki", usrah sana - sini, dalam usrah - usrah tersebut pasti tidak terlepas daripada menggunakan karangan - karangan Syaikh Hasan al-Banna rahimahullah. Awal - awal usrah yang faqir join menjadikan Risalah at-Ta'alim yang diterjemah oleh almarhum Ustaz Mohammad bin Daud al-'Iraqi sebagai teks usrah. Almarhum Ustaz Mohamad adalah mantan Ketua Dewan Ulama PAS dan mantan wakil rakyat Lundang, Kelantan. Beliau kembali ke rahmatullah padaa 2017, mudah - mudahan Allah mencucurkan hujan rahmat ke atas rohnya dan menempatkan dia bersama para shalihin.

Dalam teks asas tersebut, asy-Syahid Hasan al-Banna turut menjelaskan persoalan seperti kedudukan tawassul dalam Islam. Beliau menerangkan bahawa  berdoa dengan bertawassul itu perkara khilaf furu` tentang cara atau kaedah berdoa sahaja dan bukannya perkara akidah. Ini jelas tercatat pada usul yang ke-15 dalam dalam Risalah tersebut menyatakan sebagai berikut:-
15. Tawassul. Berdoa kepada Allah itu disuruh, tetapi kalau doa ini dikaitkan dengan tawassul kepada Allah dengan mana - mana makhluk maka doa seperti itu menjadi perkara khilafiah tentang cara - cara berdoanya, bukanlah merupakan masalah akidah.

Maka sikap kita selaku seorang muslim, apatah lagi yang berkecimpung dalam harakah dan jemaah dakwah semestinya mengambil sikap sebegini. Janganlah terburu - buru menghukum orang yang bertawassul dengan tuduhan - tuduhan jelik seperti syirik atau khurafat. Jelas berbeza dengan geng Salapi - Wahabi yang telah mengeluarkan persoalan tawassul dari ranah khilafiah tentang kaedah berdoa dan memasukkannya ke ranah akidah, yang akhirnya dijadikan senjata untuk mensyirikkan orang yang bertawassul. Maka tidak hairan jika ulama Salahpi - Wahabi tidak segan - segan menyesatkan asy-Syahid Syaikh Hassan al-Banna dan organisasi Ikhwanul Muslimin. Allahu ... Allah, rasanya jasa dan pengaruh almarhum Imam asy-Syahid Hasan al-Banna terhadap Islam dan perjuangan memartabatkan Islam lebih besar daripada ulama - ulama belaan keluarga Sa`ud, jangan marah sekadar berkongsi fakta.....
Tawassul - TG Nik Aziz

Ahad, Januari 16, 2022

Tawassul Syaikh Samman

Syaikh Muhammad bin `Abdul Karim as-Samman al-Madani (w.  1190H / 1776M) qaddasaAllahu sirrahul `aziz, adalah ulama dan wali yang besar pengaruhnya kepada perkembangan ilmu dan dakwah di Dunia Melayu. Apakan tidak, ramai daripada kalangan ulama - ulama rantau ini adalah murid langsung kepada beliau. Mereka - mereka ini bukan setakat "jadi murid" bahkan menjadi "murid jadi", antaranya adalah hasil didikan dan tarbiyyah Sidi Syaikh Samman al-Madani. Nampaknya kita sahajalah yang "jadi murid" pun tak jadi - jadi, Allahul Muwaffiq. Apa - apa pun yang penting jangan sampai jadi "murid jadi-jadian". Maka di antara murid Sayyidi Syaikh Samman yang terkenal di rantau Melayu adalah tiga serangkai kebanggaan dunia Melayu, Mawlana Syaikh Daud al-Fathani, Syaikh Arsyad al-Banjari dan Syaikh Abdus Shamad al-Falimbani ridhwanullahi `alaihim ajma`in

Di antara karangan Sidi Syaikh Samman radhiyaAllahu `anhu yang masih terpelihara dan dibaca orang adalah untaian - untaian berisikan munajat kepada Allah dengan bertawassul dengan Junjungan Nabi shallaAllahu `alaihi wa sallam dan para awliya`. Rupa - rupanya amalan bertawassul ini adalah amalan para awliya` yang `alim `allaamah lagi `arif. Maka tak masuk dek akal, jika ada yang berani mensyirikkannya membabibuta. Tawassul Syaikh Samman ini menjadi amalan para murid beliau yang ramainya menjadi ulama dan wali serta diperturunkan mereka kepada kita samada secara lisan maupun tulisan. Mawlana Syaikh Daud rahimahullah, misalnya, memuatkan tawassul ini dalam Kaifiyyat Khatam al-Quran pada halaman 196 - 204, manakala Syaikh Abdus Shamad Palembang rahimahullah memuatkannya dalam al-`Urwatul Wutsqa. Sehingga ke hari ini, Tawassul Syaikh Samman ini masih diamalkan dan dibaca terutama oleh para pengamal Thariqat Sammaniyyah, juga oleh pencinta para awliya` dari kalangan awam. Mudah - mudahan Allah menghidupkan hati kita dengan kasihkan para pewaris para nabi yang sebenar dan melimpahkan keberkatan mereka dalam kehidupan kita di dunia dan akhirat nanti. 

Tawassul Syaikh Samman oleh Guru Ijai

Khamis, Januari 05, 2006

Tawassul - Syaikh Dahlan al-Kediri


Ikhwah, Syaikh Dahlan al-Kediri rhm., seorang ulama besar di Jawa, ada membicarakan persoalan ziarah kubur dan bertawassul dengan para wali dalam kitabnya "Sirajuth-Tholibin" yang merupakan syarah bagi kitab "Minhajul 'Abidin" karya Imam al-Ghazali r.a. Beliau membawa perkataan-perkataan berbagai ulama antaranya Quthubul-Habib 'Abdullah al-Haddad r.a. dan Sayyidi Ahmad Zaini Dahlan rhm. Pada mukasurat 466 - 467 jilid 1 kitab tersebut, antara lain, beliau menulis:-

  • Al-Quthub al-Habib 'Abdullah al-Haddad juga berkata bahawasanya para akhyar (orang pilihan) apabila mereka mati tidaklah hilang daripada mereka melainkan 'ain mereka (yakni jasad mereka) dan rupa bentuk mereka, sedangkan hakikat mereka tetap ada (yakni hakikat kehidupan mereka iaitu roh). Maka mereka adalah hidup di dalam kubur-kubur mereka.
  • Dan jika demikianlah keadaannya, seseorang wali itu hidup dalam kuburnya, maka sesungguhnya tidak hilang sesuatu daripada ilmunya, akalnya dan kekuatan rohaniahnya, bahkan pandangan batin, ilmu dan kehidupan rohaniah bagi roh-roh mereka bertambah selepas kematian, begitulah juga tawajjuh mereka kepada Allah (yakni tumpuan atau penghadapan mereka kepada Allah, bahasa mudah fokus mereka kepada Allah).
  • Apabila bertawajjuh roh-roh mereka kepada Allah ta`ala untuk sesuatu, ditunaikan Allah s.w.t. dan dilaksanakanNya sebagai kemuliaan buat mereka. Inilah yang dimaksudkan dengan perkataan sebahagian ulama yang bagi para wali itu ada `tasharruf' (yakni `tasharruf' atau `perbuatan' atau 'tindakan' atau 'kuasa' para wali itu adalah tawajjuhnya kepada Allah). Maka 'tasharruf haqiqi' yang melibatkan kuasa memberi bekas/kesan (ta`tsir), kuasa mencipta dan mengadakan semata-mata bagi Allah tanpa sekutu. Tidak ada bagi wali dan selainnya kuasa ta`tsir dalam sesuatu, sama ada hidup mahu pun mati. (Inilah 'aqidah Ahlus Sunnah wal Jama`ah, yang berkuasa memberi bekas hanya Allah, makhluk sama ada hidup mahupun mati tidak berkuasa memberi bekas, oleh itu tidak ada bezanya bertawassul dengan yang hidup atau yang mati. Fahaman yang mengatakan bahawa tawassul hanya boleh dengan yang hidup, tidak yang mati, maka dalam fahaman ini seolah-olah yang hidup boleh memberi bekas berbanding yang mati. Fahaman ini adalah logika yang mengandungi syirik yang halus.) Sesiapa yang percaya bahawa wali atau selainnya mempunyai ta`tsir dalam sesuatu perkara atau urusan, maka dia telah kafir dengan Allah ta`ala.
  • Maka ahli barzakh daripada kalangan wali berada di hadhrat Allah ta`ala. Sesiapa yang bertawajjuh kepada mereka dan bertawassul dengan mereka, maka mereka bertawajjuh kepada Allah ta`ala pada menghasilkan kehendaknya. 'Tasharruf' yang terhasil daripada mereka adalah tawajjuh mereka dengan roh-roh mereka kepada Allah ta`ala, sedangkan 'tasharruf haqiqi' adalah bagi Allah semata-mata. Apa yang jatuh berlaku daripada mereka termasuk dalam jumlah asbab biasa yang tidak mempunyai ta`tsir, maka wujud sesuatu itu di sisi mereka bukan dengan (kuasa) mereka, menurut apa yang dilaksanakan Allah daripada segala kebiasaan. (Yakni yang mewujudkan adalah Allah semata-mata, inilah yang dimaksudkan dengan perkataan "wujud di sisi mereka bukan dengan mereka").
  • Jangan engkau tertipu dengan segala syubuhat (kekeliruan) pegangan Wahhabi yang menegah tawassul dan ziarah kerana hujjahnya (yakni hujjah puak Wahhabi) adalah batil.

Inilah antara tulisan Syaikh Dahlan al-Kediri. Perlu diberi perhatian bahawa apa yang dinyatakan oleh beliau adalah bersumber kepada ulama-ulama lain dan merupakan pandangan jumhur Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Yang menegah tawassul dan ziarah kubur awliya` adalah puak Wahhabi penderhaka. Kita tak kisah kalau orang nak bertawassul atau tidak. Untuk menghasilkan sesuatu hajat, kita disuruh mencari sebab, walaupun Allah berkuasa mengabulkannya tanpa sebab dan kadang-kadang berlaku tanpa sebab, berusaha satu sebab, berdoa satu sebab, bertawassul satu sebab yang lain. Insya-Allah, dengan banyaknya asbab mudah-mudahan terkabullah segala hajat dengan syarat segala asbab tidak menyalahi hukum syarak yang mulia. Jika dihukumkan tawassul itu haram dan sesat, maka ramailah yang akan masuk neraka termasuklah ulama-ulama yang mu'tabar. Kalau tak nak bertawassul sudah, duduk diam-diam, jangan mudah mensyirikkan orang lain. Allahu a'lam.

Selasa, Disember 28, 2010

Sandaran Tawassul Lepas Wafat

KITA menyambung bicara kita tentang tawassul dalam latar kehangatan beberapa isu-isu agama yang timbul dalam masyarakat seperti penangkapan pengikut fahaman Syiah, ancaman faham Pluralisme Agama dan fatwa tentang peguam bukan Islam di Mahkamah Syariah.

Di samping, sikap dan pendirian majoriti umat yang tercermin antara lainnya dalam suara majoriti mufti-mufti, kedengaran juga di sana-sana suara-suara sumbang dan syadz (ganjil/asing). Ada yang mempertikaikan penggunaan undang-undang terhadap aliran menyeleweng malah ada juga ilmuwan yang bukan ulama yang cuba menghujah bahawa Syiah bukanlah aliran yang bermasalah.

Suka kita mengambil kesempatan di sini untuk berpesan kepada diri dan para pembaca sekalian untuk berwaspada terhadap pandangan-pandangan yang menyalahi majoriti umat ini. Khalayak awam yang punya tumpuan dan kehidupan mereka masing-masing tidaklah dibebankan untuk meneliti setiap hujah dan dalil yang cuba dikemukakan. Nanti terhenti dan terganggu pula kehidupan masyarakat. Inilah rahsianya prinsip-prinsip mengutamakan ijmak ataupun suara majoriti umat (sawad al-a'zam) dalam Islam.

Umat Nabi Muhammad SAW tidak akan bersepakat atas suatu yang batil. Bagi orang awam, cukuplah sandarannya untuk menolak pandangan mereka ini dengan bersandar dengan sekian ramai para ulama dan ilmuwan Islam lain yang bersama suara majoriti. Menganggap bahawa semua mereka ini jahil, leka, tersalah ataupun sudah dibeli oleh kepentingan duniawi adalah suatu sikap prasangka yang melampau terhadap Islam dan umat Islam.

Mungkin dalam isu bertawassul ini juga suara-suara yang sama akan membangkang pandangan majoriti yang sedang kami bentangkan. Semoga kita sentiasa ditawfiqkan untuk memakai pandangan yang terbaik.

Bertawassul selepas kewafatan Nabi SAW memang ada sandarannya. Antaranya, telah meriwayatkan Ibnu Abi al Dunya di dalam kitab Mujabi al Du'a', katanya: "Telah menyampaikan kepada kami Abu Hasyim, aku mendengar Kathir ibnu Muhammad ibnu Kathir ibnu Rifa'ah berkata 'telah datang seorang lelaki kepada Abdul Malik ibnu Sa'id ibnu Abjar, lalu dia memerhatikan perutnya dan berkata, "Kamu mengidap satu penyakit kronik yang sukar untuk sembuh." Katanya: "Penyakit apakah yang aku hidapi?" Jawabnya: "Al Dubailah, iaitu kanser dan bisul besar yang tumbuh dalam perut. Biasanya, ia boleh meragut nyawa orang yang menghidapnya."

Beliau berkata: "Maka lelaki itu berpaling dan berdoa: "Allah, Allah, Allah adalah Tuhanku, aku tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Ya Allah! Sesungguhnya aku bertawajjuh kepada-Mu dengan Nabi-Mu; Muhammad; Nabi pembawa rahmat SAW, wahai Muhammad! Sesungguhnya aku bertawajjuh denganmu kepada Tuhanmu dan Tuhanku agar Dia merahmatiku (dengan menyembuhkan) penyakit yang menimpaku."

Ibnu Rifa'ah berkata: "Abdul Malik ibnu Said menyentuh perut lelaki itu, lalu berkata, 'kamu telah pun sembuh dan penyakit itu tidak ada lagi padamu'."

Berkata Ibnu Taimiyyah: "Doa ini dan doa lain yang sepertinya, telah diriwayatkan, bahawa ia telah digunakan oleh Salaf. (Ibnu Taimiyyah, Qa'idah Jalilah fi al Tawassul wa al Wasilah H: 91)."

Kita sedia maklum, bahawa Ibnu Taimiyyah mengetengahkan hadis ini untuk menjelaskan maksudnya dan memfokuskannya seperti mana yang dikehendakinya. Namun, yang penting bagi kita di sini ialah pengakuannya bahawa Salaf telah menggunakan doa sedemikian dan terhasilnya penyembuhan dengan doa tersebut. Inilah ketetapan daripada permasalahan ini yang penting bagi kita. Adapun ta'liq (komen)nya ke atas hadis ini, ia hanya pendapatnya sahaja. Bagi kami, itu tidak penting kecuali adanya penetapan nas untuk dijadikan dalil atas apa yang kami inginkan, dan Syeikh Ibnu Taimiyyah juga berhak menggunakan hadis tersebut sebagai dalil sebagaimana yang diingininya.

Sebahagian daripada mereka berbunyi dan bersuara lantang mengenai hadis Tawassul Nabi Adam AS dan hadis Uthman ibnu Hunaif RA dan lain-lainnya. Mereka beria-ia menolaknya dengan segala kekuatan, berdebat, berdialog, berdiri dan duduk serta melakukan bermacam-macam cara. Semua yang mereka lakukan tidak ada faedahnya kerana walau bagaimana hebat sekalipun usaha mereka untuk menolak hadis-hadis yang berkaitan dengan bab ini, ulama besar terlebih dahulu telah pun mengemukakan pendapat mereka.

Ternyata ulama-ulama besar tersebut lebih sempurna akalnya, lebih luas ilmunya, lebih jauh pengalamannya, lebih dalam kefahamannya dan lebih banyak cahaya, ketakwaan dan keikhlasannya daripada mereka. Misalnya, Imam Ahmad ibnu Hanbal RH. Beliau berkata mengenai keharusan bertawassul sebagaimana yang dinaqalkan daripadanya oleh Ibnu Taimiyyah dan al 'Iz Ibnu Abdul Salam. Ibnu Taimiyyah sendiri menyatakan di dalam salah satu pendapatnya tentang keharusan bertawassul secara khusus dengan Nabi SAW. Kemudian diikuti pula, oleh Muhammad ibnu Abdul Wahhab yang menafikan tuduhan bahawa dia mengkafirkan orang yang bertawassul. Bahkan, jelas di dalam kitab Fatawanya, beliau menegaskan bahawa tawassul hanyalah menyentuh masalah cabang agama dan bukannya berkaitan tentang masalah usul. Semuanya ini akan diperincikan di dalam kitab Mafahim yang kita bentangkan sedutannya di sini, insya-Allah.

Dalam hal ini, Syeikh al Allamah al Muhaddith Abdullah al Ghumari telah menulis sebuah risalah khusus yang membicarakan tentang hadis ini yang diberi tajuk, Misbah al Zujajah fi Fawaid Solat al Hajah. Beliau telah mengupasnya dengan kupasan yang amat baik dan berguna, bahkan telah menghasilkan sesuatu yang mampu menyembuhkan dan mencukupkan pelbagai keperluan. Semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan.

- Panel Penyelidikan Yayasan Sofa, Negeri Sembilan

(sumber Utusan Malaysia)

Rabu, Jun 09, 2021

Tawassul - Dr Ayman al-Akiti

Akhir-akhir ini isu lampau kembali lagi diperlagakan oleh netizen iaitu tentang hukum bertawassul dengan orang yang telah meninggal dunia sama ada para nabi ataupun wali. Apa yang berlaku, masih ada orang yang terikut-ikut mentohmah amalan bertawassul ini sebagai syirik.

Ketika ulama menyebutkan tawassul, maka ia bermaksud menjadikan sesuatu sebagai perantara untuk mencapai tujuan yang dituju. Misalnya, seseorang yang berharap agar doa dan harapannya dikabulkan Allah SWT, maka dia bertawassul dengan Nabi Muhammad SAW iaitu menjadikan Baginda sebagai wasilah atau perantara agar doa dan harapannya dimakbulkan oleh Allah SWT kerana Baginda SAW adalah kekasih Allah SWT.

Dalam konteks perdebatan hari ini, kelompok yang menganggap tawassul sebagai syirik adalah disebabkan mereka menilai bahawa doa sepatutnya dipanjatkan langsung kepada Allah SWT, sedangkan menjadikan ruh orang yang telah mati sebagai perantara termasuk Nabi Muhammad SAW adalah salah satu bentuk kesyirikan kerana melanggar firman Allah SWT: "Dan orang-orang musyrik yang mengambil selain dari Allah untuk menjadi pelindung: "Kami tidak menyembah melainkan supaya mereka mendampingkan kami kepada Allah sehampir-hampirnya" (al-Zumar: 3).

Walhal Rektor Universiti al-Qarawiyyin; Tayyib bin Kiran al-Fasi (w. 1812M) menjelaskan bahawa ayat tersebut sebenarnya menunjukkan kaum musyrikin beriman berhala-berhala tersebut memiliki bahagian dari sifat ketuhanan yang menyebabkan mereka jatuh dalam ke syirikan, serta larangan bertawassul dengan berhala.

Di sisi lain, kalau ditilik pada dalil dan nas syarak, ditemukan banyak sekali hadis dan athar yang digunakan sebagai sandaran keharusan bertawassul. Belum lagi doa-doa yang warid (sampai kepada kita) oleh ulama-ulama agung sendiri yang mengharuskan bertawassul. Ini yang menyebabkan Imam al-Sanusi (w. 895H) menjelaskan tawassul di dalam Islam adalah harus berbeza dengan sikap kaum musyrikin Mekkah.

Sebuah kisah yang terkenal diriwayatkan oleh Uthman bin Hunaif RA yang menceritakan bahawa Rasulullah SAW didatangi oleh seorang lelaki buta yang mengadu kesusahannya. Maka Baginda SAW memerintahkannya untuk bersabar itu lebih baik baginya. Tetapi orang tersebut memilih Baginda SAW mendoakannya. Maka Baginda SAW memerintahkannya untuk ia berwudu, solat dua rakaat serta berdoa dengan doa ini:"Ya Allah! Aku memohon daripadaMu dan bertawassul dengan Nabi Mu Muhammad, Nabi pembawa rahmat, Ya Muhammad! aku bertawassul denganmu kepada Tuhanku bagi hajat ku ini, maka tunaikanlah untukku Ya Allah! berikanlah syafaatnya kepadaku".

Lalu Uthman menceritakan: "Demi Allah! sebelum kami berpisah dan belum banyak kami berborak, tiba-tiba lelaki buta itu masuk seolah ia belum pernah mengalami kebutaan". (HR al-Tirmidhi (hasan sahih gharib), al-Hakim (sahih) dan lain-lain. Bahkan seorang pakar hadis dari Mesir, Dr. Mahmud Said Mamduh mengatakan hadis ini sahih. (Lihat: Raf'u al-Manarah: 106].

Terkait dari kisah ini, Imam al-Tabrani meriwayatkan ketika zaman Khalifah Uthman bin Affan ada seseorang berhajat kepada Khalifah, akan tetapi beliau tidak dipandang oleh Khalifah. Maka beliau pun mengadu kepada Uthman bin Hunaif, maka beliau memerintahkan untuk berdoa seperti di dalam hadis yang lalu. Orang tersebut pun datang ke pintu rumah Khalifah Uthman bin Affan RA dan beliau dijemput masuk serta segala hajatnya ditunaikan. Beliau juga kembali dan menceritakan perkara inikepada Uthman bin Hunaif. [Athar al-Tabrani, Abu Nu'aim dan al-Bayhaqi. Dr. Mahmud mensahihkan hadis ini: Raf'u al-Manarah:115]. Athar ini juga menjadi bukti dianjurkan bertawassul dengan Rasulullah SAW walaupun setelah kewafatannya.

Hujjah kuat lainnya adalah sebuah atsar yang menceritakan ketika zaman Khalifah Umar bin al- Khattab RA, terjadi sebuah kemarau. Maka datanglah seorang lelaki ke makam Rasulullah SAW dan menyeru: "Ya Rasulallah! Turunkanlah hujan! kerana umat mu benar-benar dah hancur". Lalu lelaki itu bermimpi didatangi Rasulullah SAW dan berpesan supaya bertemu dengan Umar, sampaikan salam dan khabarkan bahawa kalian akan disirami hujan. Ketika lelaki itu bertemu Khalifah Umar RA dan menceritakan maka menangislah Khalifah dan berkata: "Ya Allah! saya tidak bermalasan kecuali terhadap sesuatu yang saya tidak mampu mengerjakannya" (Athar ini diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Sahihnya, al-Bayhaqi dan lain-lain. al-Hafiz Ibn Hajar dan al-Hafiz Ibn Kathir telah mensahihkan Athar ini).

Dari semua dalil ini juga banyak lagi dalil yang tidak dapat disebutkan di dalam ruang yang terbatas ini, ulama-ulama agung mazhab Syafii dan mazhab-mazhab lain berpendapat bahawa bertawassul dan beristighathah adalah harus bahkan sunnat. Imam al-Nawawi (w. 676H) di dalam al-Majmu`: 8/274, misalnya mengajarkan untuk memberikan salam kepada Nabi Muhammad SAW ketika menziarahi makam Baginda, setelah itu Abu Bakr, Umar dan kembali ke wajah Rasulullah SAW dan bertawassul serta meminta syafaat melalui Baginda SAW kepada Allah SWT. Apa yang disebutkan oleh al-Nawawi ini jelas-jelas menunjukkan amalan bertawassul dengan Rasulullah SAW setelah wafatnya di makam Rasulullah SAW serta menghadap Rasulullah SAW.

Tawassul dan Istighathah ini telah difatwakan harus dan baik oleh al-Subki (w. 756H), Ibn Hajar al- Asqalani (w. 852H), Zakaria al-Anshari (w. 926H), al-Suyuthi (w.911H), al-Qastalani (w. 923H), Ibn Hajar al-Haytami (w.974H), Mula Ali al-Qari (w. 1014H), al-Ramli (w. 1004H), al-Qurtubi (w. 671H), Wan Daud al-Fathani (w. 1847M), Abdullah Fahim (w. 1961 M), sekalian ulama Muzakarah di Kepala Batas tahun 1953M, dan banyak lagi ulama dari hujung Barat sehingga hujung Timur.

Selain dari itu, beberapa jabatan mufti negeri di Malaysia juga telah mewartakan Fatwa Menangani Persoalan Bidaah Perkara Ikhtilaf/Khilaf Furu', seperti Negeri Sembilan, Selangor dan Pulau Pinang.

Di dalam keputusan tersebut juga melarang pembidaahan amalan bertawassul. Lebih-lebih lagi sekalian ulama Alam Melayu dahulu beramal dengan banyak selawat yang penuh dengan keindahan bertawassul kepada Junjungan Besar Baginda Muhammad SAW yang diadatkan oleh ulama dahulu dan sekarang. Bagaimana mungkin amalan majoriti muslim ini dihukum syirik?